Rabu, 30 Desember 2009

Aku Bukan Bangsawan


Sejak kecil aku dididik untuk bersikap halus, santun, sopan sesopan-sopannya. Tak lain karena aku perempuan. Lebih ekstrim lagi karena aku gadis keturunan bangsawan dari silsilah raja-raja Sumenep. Entah keturunan ke berapa. Aku pun tak terlalu perduli, sebab bagiku, keturunan bangsawan atau bukan adalah sama saja. Tak ada pengaruh yang bisa membuatku jauh lebih istimewa dibandingkan dengan yang bukan keturunan bangsawan. Ah, siapa pula yang akan membuat diri kita sukses dan menjadi manusia yang mandiri dan berdaya guna jika bukan karena kemampuan kita sendiri? Aku tak pernah percaya bahwa silsilah dapat mengubah nasib baik seseorang di masyarakat.
Mengapa kemudian ibuku menjadi sedemikian ketat untuk urusan tata krama dan budi pekerti luhur? Tata krama selalu diagung-agungkan sebagai sebuah adab tertinggi dalam budaya prilaku kaum priyayi dalam adat Jawa atau adat bangsawan di manapun. Di seluruh pulau Madura, menurut Ibu, Sumenep adalah wilayah paling halus tata krama dan budi bahasanya di antara semua wilayah bagian di pulau garam ini.
Ibu tak pernah mengizinkanku untuk menopangkan kaki jika berbicara di depan keluarga, terutama di depan orang yang berusia lebih tua. Tak pernah membiarkanku tertawa lepas, cekikikan,   atau terbahak-bahak dan membuka mulut selebar-lebarnya. Pernah pahaku dicubit sedemikian keras ketika kedapatan ikut bicara dan menyilang kaki saat bertamu atau menerima tamu kerabat jauh dan dianggap terhormat, karena kekayaannya atau usianya, atau hubungan struktur kekerabatan yang lebih tinggi daripada Ibuku.
Ya. Bapak dan Ibuku keturunan bangsawan. Seluruh keluarga besarnya yang tersebar di Jakarta begitu bangga dengan keberadaan itu. Semua selalu membanggakan namanya yang berembel-embel R atau RA, RP atau RM. Hanya keluargaku yang tidak terlalu memusingkan soal gelar, sebab ayahku sangat moderat. Di zaman tahun 60-an, ayahku ikut pergerakan mahasiswa meskipun memiliki hubungan asmara dengan ibuku. Jadi, sedikit banyak, pergaulan mahasiswa yang digeluti ayahku ikut mengubah paradigma berpikirnya yang kolot dan feodal menjadi modern dan moderat.
Semula aku merasa biasa-biasa saja menghadapinya. Menjalani hidup seperti tuntunan Ibu membuat aku lebih mawas diri, lebih menjaga perilaku, terutama dalam pergaulan dengan sesama teman kuliah. Cara bergaul dan bertutur kata yang melekat dalam kepribadianku terbaca oleh teman- teman sepergaulan. Apalagi laki-laki yang jatuh hati padaku. Baik yang seangkatan maupun kakak kelasku. Kerapkali mereka bilang: orang Madura halus sekali, seperti keturunan kraton!
Persoalan lalu menjadi runyam ketika aku mulai berpacaran dengan Rusdi, pria asal Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta. Sebagai seorang penyuka sastra, aku mengenal Rusdi melalui tiga buah novelnya yang terbilang laris manis di pasaran. Banyak sastrawan hebat yang menjadi temannya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya, sedangkan aku penggemar berat karyanya? Kami sering bertemu jika ada acara peluncuran buku atau temu sastra dan diskusi di TIM atau di tempat-tempat lainnya. Rusdi selalu melirik jika kedapatan aku sedang mencatat atau mengajukan pertanyaan pada moderator. Bahkan pernah pula aku didaulat membacakan puisi Rendra untuk mengisi kekosongan acara, sembari menunggu kehadiran pembicara selanjutnya. Gayaku yang tomboy membuat Rusdi tertarik untuk mendekatiku. Bahkan, suatu ketika, mengantarkanku pulang ke rumah seusai acara. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Kenangan yang membuat jantungku berlompatan ketika Rusdi dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada novelnya yang kumiliki dengan tulisan : untuk Ariani, I love u!
Namun, gaya urakan Rusdi itulah sumber petakanya. Suaranya keras dan sikapnya yang sangat terbuka, membuat aku jengah. Setiap ia bertandang ke rumah dan berbincang-bincang bersama ibuku, alangkah tidak sopan gayanya! Sesukanya saja ia silangkan kaki, mengangkat cangkir dan menyeruput minuman dengan cara yang kasar, bahkan membantah argumentasi Ibu jika sedang bersilang pendapat tentang hal-hal biasa, semisal harga BBM, kebijakan pemerintah, emansipasi perempuan, gosip selebritis atau apa saja yang sedang ramai jadi perbincangan orang banyak. Ah, tentu dapat kau bayangkan! Pasti alis Ibuku langsung mengernyit, lalu segera masuk kamar. Alih-alih keluar lagi, seperti biasa Ibu segera memanggilku, kemudian berbisik menyuruhku bergegas mengusir Rusdi.
Namun Rusdi bukanlah seorang Batak tulen jika ia mudah menyerah. Rusdi pantang putus asa. Ia bersiteguh pada pendiriannya untuk tetap menunggu restu dari Bapak dan Ibuku. Jadwal bermalam Minggu atau kunjungan rutin masih tetap dilakukannya. Ia pun tetap rajin mengajakku ke tempat-tempat pertemuan sastrawan, atau menonton pertunjukan teater di TIM. Seusai menonton, kami akan mendiskusikannya. Penguasaan Rusdi akan dunia seni teater dan sastra membuatku bertekuk lutut! Aku makin jatuh cinta padanya. Lama kelamaaan aku mulai terpengaruh oleh sikapnya. “Berani karena benar”, begitu selalu yang ditanamkan Rusdi di kepalaku. Aku menjadi lebih mudah berbicara, atau memberi argumentasi jika tak sepakat, bercakap-cakap dengan bebas dengan orang yang lebih tua. Bahkan tertawa terbahak-bahak pun mulai berani kulakukan.
“Ibu, dunia tak akan runtuh hanya gara-gara aku tertawa keras Ibu!” begitu bantahku. Atau, “Mengapa kita harus diam jika kita tak setuju? Alangkah menderitanya menjadi perempuan? Apa aku tak boleh berbicara atau mengemukakan pendapatku, Bu?” Begitu sergahku. Ibu akan menunjukkan sikap tak suka, geleng-geleng kepala atau menampar mulutku yang berani.
“Gara-gara kamu bergaul dengan Rusdi dan semacamnya, kamu jadi seperti tidak terpelajar, Ariani!”
“Bukan karena bergaul dengan Rusdi, Ibu! Ini zaman modern, mengapa kita masih terikat dengan adat kuno itu? Ah, Ibu!” bantahku sambil membanting pintu kamarku dan menyetel musik keras-keras. Kemudian membuka-buka buku, atau membaca novel yang belum selesai kubaca.

***
Malam itu Rusdi mengajakku menonton pentas pertunjukan monolog yang dimainkan oleh Butet Kertaredjasa. Sebagai penggemar berat Butet, tentu aku tak menolak ajakan Rusdi. Apalagi harga tiket masuk terbilang cukup mahal. Aku meminta izin pada Ibu, meski aku yakin Ibu tak akan menyambut laporanku dengan gembira.
“Bu, nanti aku akan nonton pertunjukan monolog bersama Rusdi. Pulang malam, Bu!” kataku meminta izin dengan jujur. Aku tak pernah mendustai Ibu.
“Tidak! Sabtu yang lalu kamu pulang tengah malam dengan Rusdi. Dua hari yang lalu, keponakan Ibu melihatmu sedang bergandengan tangan dengan Rusdi di sebuah CafĂ©. Dan kamu tahu apa akibatnya? Keluarga ini jadi pembicaraan di keluarga besar kita! Ibu malu!” Ibu tak bisa dibantah.
                Aku tetap bersikeras agar bisa pergi menonton pertunjukan Butet malam nanti. Acara ini sudah kutunggu sejak berhari-hari yang lalu. Sudah kunanti-nanti! Perdebatan pun berlanjut seperti biasanya. Ah, mengapa aku yang selalu tak bersepakat dengan Ibu? Apa karena aku anak sulung dan paling dewasa di antara tiga bersaudara? Adikku perempuan masih remaja, kelas dua SMP. Mungkin belum saatnya memikirkan hal-hal seperti yang kupikirkan saat ini!
                Satu jam kemudian kulihat Ibu sedang menyiangi sayuran yang akan dihidangkan untuk makan malam. Dapur begitu sepi. Ibu memang jarang berbicara dengan pembantu. Pembantu setia kami—sudah dua belas tahun mengabdi di keluarga kami, sejak adik bungsuku berumur 3 tahun—jarang mengobrol dengan Ibu. Sedangkan aku senang berkelakar. Hubunganku dengan Umaiyya terbilang akrab. Ia juga berasal dari Sumenep. Memanggil Ibuku dengan julukan Din Aju (Den Ayu, bahasa Jawa).
                Kuintip lagi Ibuku di dapur. Pembantuku sedang mencuci daging. Ibu masih menyiangi sayuran. Saling diam, saling bisu. Keduanya tak bercakap sama sekali. Aku hanya berdiri di balik pintu. Ingin masuk dan merajuknya, tak berani. Aku melihat Ibuku berwajah muram. Jangan-jangan Ibu sedang gusar memikirkan perilakuku. Sering Ibu berbicara: sebagai anak sulung, kau harus memberi contoh pada adik-adikmu. Padahal sebagai anak sulung aku merasa beban ini begitu berat. Aku menyukai kebebasan selama itu bertanggung jawab.
                “Bu, boleh ya, Bu. Aku ingin sekali menonton pertunjukan itu! Tiketnya sudah dibelikan oleh Rusdi!” rajukku.
                “Rusdi! Lagi-lagi Rusdi! Mon nyare lalake’ se teppa’!” ujarnya tanpa menoleh.
                “Rusdi baik, Bu. Ia tak pernah kurang ajar! Kenapa Ibu membenci Rusdi? Apa karena ia orang Batak, dan bukan keturunan priyayi?” bantahku mulai emosi.
                “Bukan hanya itu! Ia kurang sopan! Ibu tak suka!” Ibu membanting pisaunya di atas baskom kaleng tempat sayuran. Suaranya mengagetkanku. Pembantuku juga terkejut, menggidikkan bahu dengan reflek.
                “Lanjutkan Umi! Sayur bening buat Bapak!” Ibu berseru sambil berjalan melewatiku.
Aku terhenyak. Sungguh tak berani membantah Ibu. Tapi, oh, bayangan Butet Kertaredjasa sedang bermonolog begitu menggoda imanku! Pelan-pelan aku berdiri dari jongkok di atas dingklik plastik, menuju ke ruang depan.
                Di kamar depan, kamar Bapak dan Ibu, kulihat Ibu sedang berbaring membaca majalah. Ah, di satu sisi Ibu gusar sebab aku tak juga menemukan jodohku meski usiaku beberapa bulan lagi hampir menginjak kepala tiga. Di sisi lain, Ibu begitu ketat memilihkan jodoh yang cocok buatku. Jujur saja, meski banyak lelaki yang mendekatiku, aku tak terlalu suka untuk cepat-cepat memutuskan pilihan. Ada-ada saja kurangnya!
                Dengan tubuhku yang tinggi semampai, wajah cukup cantik, rambut ikal panjang dan otak cemerlang kata orang, tak mungkin aku sulit mendapatkan jodoh, demikian kata Ibu berulang-kali. Padahal, aku tahu, Ibu juga suka bingung melihat betapa sulitnya aku bertemu jodoh.
                “Bu, aku akan pergi. Aku harus pergi, Bu! Teman-teman teater akan datang semua menonton pertunjukan itu! Tak mungkin kubatalkan! Rusdi sudah membelikan tiketnya, sepulang kantor akan menjemputku.”
                “Rusdi lagi, Rusdi lagi! Ibu tak mau mendengarnya! Apa kata orang dan keluarga besar kita jika anakku menikah dengan anak petani orang Batak? Kasar! Bukan keturunan priyayi!”
Telingaku seperti tersengat lebah! Sakit! Aku mencintai Rusdi dan diam-diam kami sudah mempersiapkan cincin!
                “Ibu! Zaman sekarang masih saja berpikiran kolot! Apa hebatnya keluarga bangsawan, Bu? Apa makanannya bukan nasi? Atau buang gasnya lebih wangi? Ibu…, aku tak tahan lagi dengan semua doktrinmu tentang kebanggaan akan gelar!” sungutku sambil mencoba menahan tangis.
Wajah Rusdi membayang di mataku. Rusdi, lelaki Batak yang supel dan ramah. Tubuhnya atletis. Dadanya bidang. Rambutnya ikal. Dan wajahnya mirip Richard Gere, meski berkulit agak gelap. Pekerjaannya juga lumayan. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta. Ia sukses menempuh cita-citanya sebagai anak dari keluarga miskin petani aren di Medan sana!
                Aku segera keluar dari kamar Ibu. Yang sedianya aku ingin memijiti kakinya, kali ini enggan! Ibu dengan penyakit jantungnya sering minta dipijat di bagian kaki, dan aku paling senang memijitinya karena Ibu akan diam saja sambil setengah mengantuk. Ibu akan tekun mendengarkan celotehku tentang teman-teman kampusku atau rekan-rekan kerjaku bahkan tentang laki-laki yang mendekatiku. Hingga ia tertidur. Ibuku sahabatku!
                Jam dinding sudah berdentang 5 kali. Artinya aku harus segera berangkat. Rusdi pasti sebentar lagi datang! Ia tetap bersikap jantan meskipun tahu Ibuku kurang menyukainya. Segera aku siapkan kaos dan celana jins yang akan kupakai. Rambutku yang baru saja di creambath kuikat separuh, separuhnya lagi kugerai. Kata Rusdi aku cantik jika diikat separuh seperti itu dan tanpa poni!
Tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku. Ia menatapku lekat-lekat seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Kuletakkan sisir.
“Bu, ada apa? Aku mau siap-siap, sebentar lagi Rusdi datang.”
“Jadi… kamu nekat membantah nasihat Ibu?”
“Bu…. aku mencintai Rusdi. Kami sedang mempersiapkan pernikahan!”
“Astaghfirullah! Kamu akan menikahinya? Tidak! Ibu lebih baik mati daripada bermenantu orang Batak!”
Duh, dadaku rasanya mau remuk! Ibu segera berlalu, masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Capek membantah, aku diam saja tak mengacuhkan. Kata-kata terakhirnya tadi mengganggu pikiranku. Diam-diam aku menelan ludah, menahan tetes airmata yang tertahan di pelupuk mataku.
Suara Rusdi mengucap salam mengagetkanku. Kutatap saputan bedak di wajahku terakhir kali. Aku keluar menemui Rusdi. Segera  kupamit pada Ibu.
“Bu, Rusdi sudah datang. Aku akan pergi Bu! Rusdi mau pamit!” Ibu tak menyahut. Tubuhnya tergolek menghadap ke tembok. Akupun diam saja sambil menutup kembali pintu kamar.
“Sudah, tak usah pamit. Ibu kurang enak badan.” Bisikku pada Rusdi. Aku hanya berpamitan pada adikku yang sedang membuka komputer. Pikiranku mulai tak karuan. Separah itukah kebenciannya pada Rusdi?
Pertunjukan dimulai tepat pukul tujuh. Penonton membludak, memadati gedung Graha Bhakti Budaya. Semua kursi terisi. Tata panggung begitu apik, artistik. Lampu-lampu penonton mulai dipadamkan satu persatu. Hanya tersisa lampu di bagian panggung. Terdengar nyanyian dalam iringan music etnis kontemporer sebagai latar belakang setting. Hatiku makin bergemuruh tak sabar menantikan kehadiran Butet sang aktor monolog.
Setengah jam kemudian, suara ponsel terdengar. Adikku mengirim pesan singkat. Mbak, pulang. Ibu kumat jantungnya. Begitu bunyi pesan singkatnya. Tanpa sadar airmataku menggenang. Aku berdiri panik. Rusdi ikut berdiri.
“Ada apa, Ar?”
“Ibuku, Ibuku…..” ujarku terbata-bata. Aku tak mampu menjelaskan. Rusdi ikut berdiri, menyusulku yang berjalan cepat meninggalkan arena pertunjukan. “Jantung Ibuku kumat!” sahutku tergesa. Rusdi segera membuka pintu mobilnya. Kami meluncur membelah keramaian kota Jakarta di malam Minggu itu. Kami melewati jalan tol. Rusdi mengemudi secepat kilat. Terbayang di mataku saat pertama kali Ibu kena serangan.
Oh, aku tak mau mengalami kejadian mengkhawatirkan itu lagi! Setibanya di rumah, segera aku menghambur ke kamar Ibu. 
“Ibuuuu! Ada apa? Ma’afkan aku Ibu!”
Rasa bersalahku melebihi segalanya.



Jati Asih, 30 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar