Senin, 14 Maret 2011

Puisi

Genderang Sungsang

Bukankah Engkau jua yang mainkan genderang
Di persinggahan hidup sepasang tiang
Kala sepasang mata jatuh pada pengkhiatan karang
luka, Kau tak temukan cemas terlunta

Diapit waktu yang kiat menjepit seperti mata sabit
Siap menikam dada dengan kalimat sakti
“laa ilaaha illallaah”
Ku bersimpuh di ujung kakiMu

Lalu bumi kehilangan pijak, jika aku tak gegas
Membungkus masa silam
yang tersisa sedalam kelam
di jejak  kini aku bersandar pada tiang tenggelam
sambil merajut angan dengan sepasang mata
kosong semata

7 Maret 2011

Kamis, 04 Februari 2010

Balada Sandal Pak Supri

Sudah tiga pekan ini Pak Supri rajin  sholat di masjid. Istrinya pun sampai dibuat bingung. Sebab tak biasanya sang suami begitu rajin menantikan  saat  azan Magrib berkumandang. Gema Azan yang bersahutan merajuknya untuk segera berwudhu dan melangkahkan kaki ke masjid. Setahu istrinya, biasanya Pak Supri paling malas ke masjid. Ia lebih suka menonton tivi. Pagi, siang, sore, matanya setia menatap layar kaca. Dari iklan sampai sinetron, ia menonton terus. Sepanjang waktu menonton itu hanya diselingi dengan kegiatan makan atau ke luar rumah sebentar, sekedar kongkow dengan bapak-bapak di gardu ujung gang. Lalu ia masuk lagi ke dalam rumah dan kembali bersetia duduk di kursi khusus dan menghadap televisi. Semula istri pak Supri sempat hendak mencarikan seorang psikolog untuk mengobati  kecanduan suaminya akan televisi. Namun hingga kini tak pernah kesampaian.
Sebelumnya, setiap hari kegiatan Pak Supri sangat terjadwal rapi. Rapi dalam pengertian: Shubuh terlewati, ia tetap mendengkur, meski kalimat  “Assholaaatu khoirumminannauum” memanggil manggilnya lewat masjid di seberang gang rumahnya. Ia baru bangun tidur pukul sembilan atau  sepuluh,  saat  tukang sayur berhenti di depan rumah tetangga sebelah dan ibu-ibu berkerumun di gerobaknya. Ia menyeruput kopi yang sudah dingin, karena dihidangkan oleh istrinya sebelum  berangkat mengajar jam setengah tujuh pagi. Seusai minum kopi dan menghisap rokoknya, ia segera mandi dan berangkat. Itu lah jadwal rutinnya.
Sore, pukul enam atau sekitar Magrib, ia sudah kembali ke rumah. Hal utama yang dilakukannya adalah menonton tivi, sebelum berganti baju. Azan bersahutan di mushalla-mushalla dan masjid-masjid sekitar perumahan sederhana itu. Namun Pak Supri bergeming di depan layar kaca menyaksikan sinetron komedi yang menurut istrinya tak lucu sama sekali. Bagi Pak Supri lucu. Ia bisa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan demi adegan. Ia baru akan beranjak dari duduknya saat sepuluh menit lagi menjelang azan Isya. Lalu segera sholat Magrib dengan tanpa memakai kemeja, hanya kaos singlet yang dikenakan sebagai pakaian dalam kemeja kantornya. Kaos itu berkeringat dan baunya tajam ke mana-mana. Berkali kali sang istri menegurnya tentang kebiasaan jelek itu, namun Pak Supri enggan menurutinya. Ia hanya diam dan kembali duduk. Jika tak malas, sholat Isya dilakukannya menjelang tengah malam atau sebelum tidur.
Perubahan drastis luar biasa terjadi tiga pekan belakangan ini. Istrinya terheran-heran.  Suaminya menjadi jamaah tetap  setiap Magrib dan Isya di Masjid Al Ittihad di seberang gang rumahnya. Jika kedapatan tiba di rumah jelang  Magrib, segera Pak Supri berwudhu dan pergi ke masjid. Anak-anak semua pun dibuatnya heran dan tercengang. Tapi mereka tetap bangga. Bapak mereka yang kecanduan tivi kini rajin ke masjid. Hanya itu perubahan baik yang mencerahkan hati Bu Supri dan ketiga anak perempuan mereka.
“Pak, Ibu salut lho Bapak mau ke masjid setiap sholat Magrib dan Isya!” seru istrinya suatu malam bertanya.
“Oh, kan biasa Bu! Dulu Ibu sering marah sama Bapak kalau telat sholat!”
“Iyaaa, tapi ‘kan biasanya Bapak  sholat di rumah?”
“Memangnya kenapa?”
“Ya, sekarang Bapak jadi kayak ustadz. Tiap Magrib sampai Isya pakai baju koko!”
“Lho, kan kata Ibu kalau mau menghadap Tuhan harus pakai baju rapi, bukan cuma ke kantor saja!”
“Iya, tapi kan biasanya Bapak nggak begitu?”
“Ibu ini gimana? Dulu Ibu yang sering nasihatin Bapak soal-soal begini, sekarang kok malah bertanya-tanya!” Bapak bersungut-sungut sambil tetap menonton tivi. Padahal Bu Supri ingin bercanda.
Tangan Pak Supri menggenggam tasbih. Entah dibaca atau tidak, yang jelas, jika Pak Supri berzikir sambil menonton iklan dengan gambar ketiak dan paha perempuan, apakah ia bisa berkonsentrasi? Pikir istrinya. Diurungkannya niat untuk mengajaknya bercanda. Ia malah berbalik ke dapur hendak membalik gorengan tempe mendoan. Mungkin suaminya sedang risau, atau tersinggung. Azan Isya bertalu-talu, Pak Supri segera meletakkan tasbihnya dan bergegas pergi.
“Paaaak…..!”panggil istrinya.
Tak ada sahutan. Hanya suara pintu tertutup. Dan suara sandal diseret -- gaya jalan Pak Supri—terdengar di teras depan. Suara tivi masih anteng, saluran yang itu-itu juga. Kebiasaan Pak Supri yang satu ini belum hilang, meninggalkan teve dalam keadaan menyala tanpa ditonton. Bu Supri segera mematikan teve dan berjalan ke arah kamar. Ia membawa serta majalah yang belum dibacanya. Kebiasaan Bu Supri adalah membaca sambil berbaring di tempat tidur. Sementara ia sudah menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya. Anak-anak  bahkan sudah makan lebih dulu tadi sore. Jam jam begini adalah waktu belajar bagi anak-anak keluarga Supriandi yang tinggal di lingkungan masyarakat urban pinggir kota, wilayah Pondok Gede.  Supri yang sarjana ekonomi hanya bekerja sebagai staf biasa di sebuah perusahaan sekuriti keuangan. Gajinya tak pernah cukup untuk menghidupi keluarganya. Itu sebabnya Bu Supri harus terus bekerja.  Pelan pelan mata Bu Supri meredup. Kantuk mulai menyerang. Huruf huruf kabur.
“Bu!!! Sudah disiapkan?” suara keras suaminya mengagetkannya. Majalah yang berada di dekapan pun terhempas.
“Sudah. Mau makan?”
“Ya, tentu dong!” Bu Supri segera bangkit, membetulkan ikatan rambutnya yang mulai acak-acakan.
Mereka makan tanpa suara. Bu Supri tetap heran mengapa Pak Supri tiba-tiba berubah. Tapi ia tak mau bertanya lagi. Bahkan sendok dan garpu tak dibiarkannya berdenting di piringnya. Pak Supri juga enggan berbunyi. Lalap petai dan sambal memang kesukaannya. Ia asyik sendiri. Baju koko sudah dilepasnya, tivi mati. Tanpa suara. Hanya decap suara Pak Supri yang terdengar. Begitulah jika Pak Supri makan, belum lagi suara keras dari kerongkongannya ketika menelan air minum.
Lama-lama Bu Supri tak tahan berdiam-diam seperti itu. Nasi terasa seperti sekam di lidah, kepala berputar-putar, bingung mau memulai percakapan. Ia mendehem kecil. Makanan tak dihabiskannya. Agaknya Bu Supri akan memulai strategi merajuk jika ia sedang takut untuk bertanya. Bertanya baginya sama dengan menunggu bentakan. Jika ia merajuk, diam atau bersedih, Pak Supri akan gelisah dan bertanya lebih dulu. Dengan penuh kelembutan.
“Bu, Ibu kenapa? Kok nggak dihabiskan?”
“Pak, Ibu belum juga mendapat jawaban, kenapa Bapak sekarang berubah?”
“Berubah apanya? “
“Rajin ke masjid setiap Magrib dan Isya. Ibu senang, tapi Bapak terlalu drastis perubahannya.”
“Ya kalau berubah menjadi lebih baik kan nggak apa-apa Bu?”
“Kenapa Bapak nggak terus terang?”
“Begini Bu, ibu ingat sandal kulit hadiah dari kakekmu waktu kita ke Jogya? “
“Iya, Ibu ingat, memang kenapa? Dimana sandal itu sekarang?”
“Tiga minggu yang lalu, saat sholat Jum’at, sandal Bapak hilang. Bapak sengaja rajin ke masjid, sebab Bapak ingin tahu siapa yang ‘ngambil?” Pak Supri menghisap rokoknya.
“Lalu, Bapak ‘nemu?”
“Ada seorang pemuda yang mengembalikannya pada Bapak. Katanya, dia terburu-buru memakai sandalku, karena Bapaknya sedang sakit parah. Akhirnya meninggal. Sejak itu ia gelisah, ingin mengembalikan sandal Bapak.”
“Kapan dikembalikan?”
“Baru seminggu yang lalu. Tapi Ibu tahu apa yang terjadi sesudah itu?”
“Apa?”
“Pak RW yang selalu hadir menjadi imam Shalat sedang membutuhkan karyawan untuk usahanya. Bapak diminta kerja di sana.”
“Oh, ya?” mata Bu Supri berbinar. Jantungnya berlompatan.
Sudah lama ia menginginkan perubahan nasib keluarganya. Ia sudah lelah bekerja, usia semakin berkurang, begitupun tenaga. Bekerja dan mengurus rumah tangga tanpa pembantu sungguh berat baginya. Untuk menggaji pembantu saja mereka belum mampu.
“Karyawan untuk bagian apa Pak?”
“Keuangan Bu! Keuangan!!! Kan Bapak sarjana ekonomi! Ha ha ha..!”
“Alhamdulillah, Pak. Alhamdulillah…!!! Kapan Bapak mulai bekerja di sana?”
 “Awal bulan ini. Makanya Pak RW memberi syarat, agar setiap Magrib dan Isya Bapak membantunya di masjid.  Supaya masjid ramai oleh jama’ah.”
“Lalu sandal Bapak sekarang di mana? Kok Ibu nggak pernah lihat lagi?”
“Bapak berikan saja pada yang mengambilnya. Ia tak punya sandal buat berjualan tape keliling. Tapi bapak minta dia untuk meramaikan masjid setiap Magrib dan Isya. ”



Jati Asih, Februari 2010

Jumat, 01 Januari 2010

Bau

Sejak matahari terbit, lelaki legam itu kerap membungkukkan badan. Tangannya memegang sekop dan sapu lidi. Ia menguras tempat sampah. Kotak  tembok  permanen, dibangun dari batu bata dan semen. Selembar seng tebal di atasnya digunakan sebagai penutup, agar bau tak menyebar. Tampak seng itu separuh kusam oleh karat. Alasnya seakan menyatu dengan tanah. Lalu, bau bangkai itu dari mana?
Lelaki separuh baya itu dirayapi lelah. Ia dirasuk bingung. Selama seminggu lebih ia dipenjara bau bangkai. Bau yang menghebohkan. Bau yang kerap menyelinap sekitar rumah.
 Peluh mengucur dari seluruh pori-pori tubuhnya, kaos oblongnya basah. Juga dari pelipis dan dahinya namun ia tetap tekun membersihkannya. Ia tak jijik lagi pada sisa-sisa makanan basi, belatung dan ngengat yang bertebaran di sekitar tempat itu. Padahal biasanya, mengangkut sampah dan membersihkan sisa-sisanya yang berceceran adalah pekerjaan tukang  angkut sampah, truk yang lewat setiap tiga hari sekali.  Sekaleng karbol pun sudah dihabiskannya untuk membunuh kuman-kuman di situ. Penting baginya untuk membuat sekeliling rumahnya tetap wangi sebab ia tak ingin membuat istrinya berteriak-teriak sambil menutup hidungnya. Tubuhnya yang legam kian mengkilat. Mengundang kemilau matahari untuk bercermin di permukaan kulitnya.
Lelaki itu tetap mencangkung pundak. Istrnya belum berhenti berteriak. Ia makin kebingungan. Teriakannya begitu memekakkan telinga. Seperti suara gesekan pisau pada lembaran seng. Nyilu di gigi! 
Pak! Bau.! Aduh, bau.! begitulah teriakan istrinya selalu.
Lelaki itu melepas sekop dan sapunya segera. Ia tak tahan mendengar istrinya berteriak, bergegas menemuinya yang sedang berleha-leha di kursi ukir depan televisi. Itulah singgasana istrinya sehari-hari kecuali dapur, sumur dan kasur. Kaleng karbol kosong yang masih berada di sekitarnya terguling tertimpa batang sapu. Padahal ia merasa tempat itu sudah menguarkan wangi karbol sekarang. Mengapa sang istri masih ribut berteriak?
Sudah Bapak bersihkan Bu, masak sih masih bau?
Masih Pak, masih bau! Bapak kurang kuat membersihkannya barangkali! sungut istrinya sambil mengipasi hidungnya.
Sudah tidak ada sampah, Bu. Bapak sudah menghabiskan karbol satu kaleng!
Tapi kok masih bau? Cari bangkai tikus di sekeliling rumah Pak!
Wah, Bu. Bapak sudah sepanjang pagi membersihkan tempat sampah. Besok saja, ya? suaranya tersengal.
Yah, pokoknya kalau masih bau aku nggak bisa tidur! manja istrinya. Suara berita di tv masih keras menggema.
Sebenarnya sudah hampir dua pekan ini Bu Darmi, sang istri,  tak bisa tidur. Ia mengaku selalu merasa mencium bau-bauan busuk di sekitarnya. Setiap kali terjaga, ia selalu mengomel. Bagaimana ia tidak mengomel, sebab bau-bauan itu bukan bau cendana, kenanga, bunga-bungaan, bahkan dupa. Bau-bauan itu beraroma busuk. Kadang seperti bau bangkai menyengat, lalu berangsur-angsur pudar, berganti dengan bau busuk  anyir darah haid wanita. Kadang hanya dalam hitungan sepersekian detik bisa berubah menjadi bau toilet terminal.
Dua hari kemudian, ketika suara tivi begitu nyaring menayangkan sebuah berita wawancara kasus korupsi, Bu Darmi terbangun dari kursi ukirnya. Serta merta ia bangkit sambil marah-marah dan memanggil suaminya. Sebab ia yakin bau tersebut bukan berasal dari halaman rumahnya. Tapi dari berita korupsi yang marak dari televisi. Layar kaca dirasakannya menguarkan bau busuk. Jika televisi mati, ia menduga bau busuk itu berasal dari atas loteng, atau dari halaman mungil di balik semak rumpun tanaman asoka yang rimbun. Tempat itu sering sekali dijadikan tempat kucing muntah atau meninggalkan  kotoran. Pokoknya, bau busuk selalu hadir di cuping penciumannya. Geger seluruh warga!
Pak! Bau,,! Cari di depan sana, atau di dekat got.
Bau apa lagi sih Bu.? rungut suaminya kesal. Ia tak mencium bau apa-apa.
Bau busuk, sampah atau bangkai barangkali. Cari Pak.!
Lelaki itu bersungut-sungut, koran yang dibacanya diletakkannya kembali. Ia bergegas menuju halaman. Istrinya masih berteriak-teriak. Teriakannya serak, kasar dan berhenti hanya sebentar-sebentar.  Ia tak sadar bahwa omelannya membahana di seluruh perumahan lingkungan RT dan akan mengguncangkan seluruh warga. Hari Sabtu siang begini suasana sunyi. Cuaca panas membuat orang enggan keluar rumah. Bahkan anak-anak kecil pun hanya bermain di teras tetangga yang kebetulan jauh lebih luas dan asri.
Lelaki yang dikenal sabar itu bernama Pak Ribut. Kesabaran menghadapi istrinya luar biasa.  Ia maklum, sejak kematian bayi mereka istrinya begitu murung dan mudah tersulut oleh emosi. Pasalnya, bayi tersebut adalah satu-satunya dambaan mereka setelah lebih dari delapan tahun menikah. Apalagi meninggalnya  karena kasus malpraktek dokter anestesi yang menanganinya.
Sejak itu perangai Bu Darmi berubah. Konon, seorang pembantu pernah berperkara dengannya, lalu keluar karena tak tahan. Meski sudah dicegah oleh Pak Ribut dengan rayuan maut majikan.
Pak, sudah dibersihkan? Sudah agak hilang…” Seru istrinya sembari mengendus endus. Hidungnya yang bangir kembang kempis. Senyumnya mengurai perlahan. Pak Ribut tercenung mendengar kata-kata istrinya yang tak panik lagi. Hilang? Apanya yang sudah agak hilang? Bahkan mencari sumber bau pun belum. Alih alih membersihkannya. Ia baru saja mencari dengan matanya, belum tangannya. Bahkan belum juga beranjak dari lantai teras di depan pintu. Ia masih mematung.
Pak Ribut lega. Setidaknya untuk sementara. Jika sewaktu-waktu istrinya berteriak lagi, maka kelegaan hatinya akan segera menguap. Saking seringnya begitu, Pak Ribut bahkan hampir merasa tak ada beda antara suara ribut, suara tenang, kesenyapan, kemesraan bahkan gejolak birahi di tempat tidur. Namun Pak Ribut masih menyayangi istrinya yang cantik dan sintal. Kulitnya kuning langsat dengan rambut tebal hitam dan panjang. Lehernya yang jenjang membuat Pak Ribut selalu merasa kagum. Anak rambut di tengkuknya itu yang membuat Ribut muda kasmaran. Pak Ribut berperawakan kurus dan tinggi. Berkulit legam. Jika mereka berjalan berdua di pasar, banyak yang tertawa sebab akan mengira, seorang wanita cantik sedang ditemani supirnya.  Ah, orang pasar memang ada-ada saja gunjingannya!
Sementara persoalan bau sudah mereda, Pak Ribut kembali ke ruang kerjanya, Bu Darmi kembali ke dapur. Suasana sunyi. Hening. Hanya  suara denting piring beradu atau pisau jatuh.
Bu Darmi..! Bu Darmi…!” Sebuah suara wanita berteriak sambil menggedor-gedor  pintu depan dengan keras. Bu Darmi tergopoh-gopoh. Ia letakkan pisaunya, segera bergegas ke pintu depan sambil bersungut-sungut. Ia paling tak suka dengan tetangga yang mengetuk pintu terlalu keras, atau, jika belum dibukakan, secara tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya tanpa salam. Ada beberapa tetangga yang seperti itu. Tetapi suara di depan itu ia faham benar. Suara Bu Nafsiah yang sering menawarkan seprai batik dagangannya dari Solo.
Ada apa Bu? Kok seperti kesetanan?
Ibu mencium bau sesuatu?
Bau apa? Biasanya ya ada! Kalau saya lagi leyeh leyeh, ya ada!
Saya mencium bau sangit Bu. Bau busuk sampah. Padahal sampah sudah diangkut truk sampah dan sudah kusiram karbol. rupanya Bu Nafsiah punya persoalan yang sama.
Lha saya juga. Tapi sekarang sudah tak bau lagi.
Oh, begitu. Saya mau bawa dagangan dulu ke Encik depan. Encik depan yang dimaksudkannya adalah seorang Cina asal Pontianak pedagang emas di Pasar Kecapi. Belum juga Bu Nafsiah berlalu, Encik Liem menghambur bersama beberapa Ibu-ibu yang biasa berkeliaran ketika  tukang sayur berderet pagi-pagi. Bu Darmi bingung. Ada apa, kenapa tiba-tiba semua ibu-ibu mendatangi teras rumahnya?
Eh, ada tercium bau busuk nggak? Aku menciumnya dari kemarin. Padahal tempat sampah sudah kubersihkan dengan karbol. Sudah diangkut pula! Bu Hadi nyerocos.
Ya, aku juga. Kemarin sepulang rapat dari masjid bau itu makin tajam! seru Bu Sarwoko.
Aku pesan sea food dua hari lalu, tapi sudah diangkut sama truk sampah. ujar Encik.
Jadi bukan dari tempat sampahmu?
Bukan dong, tempat sampah saya bersih, ujarnya lagi. Di antara semua tetangga, memang hanya Encik Liem yang tempat sampahnya bersih. Ia telaten membersihkan sampahnya.
Encik melanjutkan membongkar tas isi dagangan milik Bu Nafsiah. Ia tak hirau percakapan itu. Bu Nafsiah juga tak hirau. Ia sudah mendengar gosip itu sejak dua hari yang lalu dari suaminya. Bau busuk juga belum reda dari penciumannya. Pak Ribut menyeruak dari dalam rumah. Melihat suami Bu Darmi keluar, ibu-ibu segera berdiri. 
Pak..maaf. Rame ya? Bergosip siang-siang! seru Encik.
Bau busuk di sekitar sini ya, Pak? Ada apa ya, Pak? seru lainnya serempak. Mereka tak jadi bubar.
Kita harus lapor pak RT atau Pak RW. Mungkin penanganan sampah kurang maksimal. Seru Bu Darmi. Memang ia yang paling terpelajar di antara Ibu-Ibu itu. Ia sarjana ekonomi dan pernah bekerja di LSM. Ia pun pernah menjabat sebagai ketua PKK selama satu periode.
Nanti akan saya minta Pak RT untuk rapat jika ini mengganggu ketentraman warga. Ini polusi yang harus dicegah. jawab Pak Ribut.
Iya, padahal RW kita juara satu dalam program penghijauan.
Betul!  Jadi percuma jika masih ada polusi  udara Pak.
Hidup jadi tak nyaman,
Betul!! Suami istri jadi sering ribut karena persoalan bau ini!
Truk sampah dan tukang angkutnya jadi kita marahi habis-habisan.
Padahal iuran sampah sudah dinaikkan!
Anak-anak tak bebas bermain karena udara beraroma busuk!
Pak Ribut mengangguk-angguk sambil mengernyitkan alis. Ia mendengarkan semua protes ibu-ibu yang sebagian besar barangkali berasal dari keluhan para suaminya. Segera ia masuk, meneruskan bacaannya. Kerumunan ibu-ibu di teras Bu Darmi belum juga bubar. Ibu-ibu dari gang sebelah, dari RT sebelah,  berdatangan seperti rayap. Mereka makin memadati teras Bu Darmi.  Bahkan tumpah ke jalanan serupa antrian minyak tanah. Bu Darmi tak bisa lagi kembali ke dapur. Ia ingat, keluhan serupa juga pernah disampaikan oleh warga RT lain di blok tetangga, saat berjumpa di pasar. Juga warga RW lain waktu ada pertemuan PKK di kelurahan. 
Bu,  bau apa ya? Sepertinya dari rumah ini sumbernya? semua hampir serempak mengucapkan itu. Bersahut-sahutan. Seperti  dengung lebah, makin banyak suara-suara di udara.
 Bau apalagi sih Bu? suara Pak Ribut setengah berteriak kesal menyeruak lagi di antara  gerombolan ibu-ibu.
 Aduh, bau!! Makin menyengat Pak! Segera lapor Pak RT dan RW, pak!  Jika perlu malam ini, mumpung malam Minggu.
            Pak Ribut terbelalak, membeliak, mulutnya menganga seperti gua tanpa mampu mengatup lagi.  Matanya nyalang. Ia menatapku
Aku berdiri di belakang kerumunan itu tanpa seorang pun menyadarinya.  Rambutku panjang dan kusut masai, berbaju putih dan lusuh, wajah pucat, dan anaknya, yang masih bayi dalam gendonganku masih meneteskan darah. Bukankah dia yang memutuskan untuk melakukan aborsi?
Udara sunyi, angin berhenti bertiup, orang-orang beku. Denting waktu berdetak makin keras. Jantung lelaki itu berlompatan.



Jati Asih, Januari - Maret 2010

Rabu, 30 Desember 2009

Aku Bukan Bangsawan


Sejak kecil aku dididik untuk bersikap halus, santun, sopan sesopan-sopannya. Tak lain karena aku perempuan. Lebih ekstrim lagi karena aku gadis keturunan bangsawan dari silsilah raja-raja Sumenep. Entah keturunan ke berapa. Aku pun tak terlalu perduli, sebab bagiku, keturunan bangsawan atau bukan adalah sama saja. Tak ada pengaruh yang bisa membuatku jauh lebih istimewa dibandingkan dengan yang bukan keturunan bangsawan. Ah, siapa pula yang akan membuat diri kita sukses dan menjadi manusia yang mandiri dan berdaya guna jika bukan karena kemampuan kita sendiri? Aku tak pernah percaya bahwa silsilah dapat mengubah nasib baik seseorang di masyarakat.
Mengapa kemudian ibuku menjadi sedemikian ketat untuk urusan tata krama dan budi pekerti luhur? Tata krama selalu diagung-agungkan sebagai sebuah adab tertinggi dalam budaya prilaku kaum priyayi dalam adat Jawa atau adat bangsawan di manapun. Di seluruh pulau Madura, menurut Ibu, Sumenep adalah wilayah paling halus tata krama dan budi bahasanya di antara semua wilayah bagian di pulau garam ini.
Ibu tak pernah mengizinkanku untuk menopangkan kaki jika berbicara di depan keluarga, terutama di depan orang yang berusia lebih tua. Tak pernah membiarkanku tertawa lepas, cekikikan,   atau terbahak-bahak dan membuka mulut selebar-lebarnya. Pernah pahaku dicubit sedemikian keras ketika kedapatan ikut bicara dan menyilang kaki saat bertamu atau menerima tamu kerabat jauh dan dianggap terhormat, karena kekayaannya atau usianya, atau hubungan struktur kekerabatan yang lebih tinggi daripada Ibuku.
Ya. Bapak dan Ibuku keturunan bangsawan. Seluruh keluarga besarnya yang tersebar di Jakarta begitu bangga dengan keberadaan itu. Semua selalu membanggakan namanya yang berembel-embel R atau RA, RP atau RM. Hanya keluargaku yang tidak terlalu memusingkan soal gelar, sebab ayahku sangat moderat. Di zaman tahun 60-an, ayahku ikut pergerakan mahasiswa meskipun memiliki hubungan asmara dengan ibuku. Jadi, sedikit banyak, pergaulan mahasiswa yang digeluti ayahku ikut mengubah paradigma berpikirnya yang kolot dan feodal menjadi modern dan moderat.
Semula aku merasa biasa-biasa saja menghadapinya. Menjalani hidup seperti tuntunan Ibu membuat aku lebih mawas diri, lebih menjaga perilaku, terutama dalam pergaulan dengan sesama teman kuliah. Cara bergaul dan bertutur kata yang melekat dalam kepribadianku terbaca oleh teman- teman sepergaulan. Apalagi laki-laki yang jatuh hati padaku. Baik yang seangkatan maupun kakak kelasku. Kerapkali mereka bilang: orang Madura halus sekali, seperti keturunan kraton!
Persoalan lalu menjadi runyam ketika aku mulai berpacaran dengan Rusdi, pria asal Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta. Sebagai seorang penyuka sastra, aku mengenal Rusdi melalui tiga buah novelnya yang terbilang laris manis di pasaran. Banyak sastrawan hebat yang menjadi temannya. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padanya, sedangkan aku penggemar berat karyanya? Kami sering bertemu jika ada acara peluncuran buku atau temu sastra dan diskusi di TIM atau di tempat-tempat lainnya. Rusdi selalu melirik jika kedapatan aku sedang mencatat atau mengajukan pertanyaan pada moderator. Bahkan pernah pula aku didaulat membacakan puisi Rendra untuk mengisi kekosongan acara, sembari menunggu kehadiran pembicara selanjutnya. Gayaku yang tomboy membuat Rusdi tertarik untuk mendekatiku. Bahkan, suatu ketika, mengantarkanku pulang ke rumah seusai acara. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Kenangan yang membuat jantungku berlompatan ketika Rusdi dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada novelnya yang kumiliki dengan tulisan : untuk Ariani, I love u!
Namun, gaya urakan Rusdi itulah sumber petakanya. Suaranya keras dan sikapnya yang sangat terbuka, membuat aku jengah. Setiap ia bertandang ke rumah dan berbincang-bincang bersama ibuku, alangkah tidak sopan gayanya! Sesukanya saja ia silangkan kaki, mengangkat cangkir dan menyeruput minuman dengan cara yang kasar, bahkan membantah argumentasi Ibu jika sedang bersilang pendapat tentang hal-hal biasa, semisal harga BBM, kebijakan pemerintah, emansipasi perempuan, gosip selebritis atau apa saja yang sedang ramai jadi perbincangan orang banyak. Ah, tentu dapat kau bayangkan! Pasti alis Ibuku langsung mengernyit, lalu segera masuk kamar. Alih-alih keluar lagi, seperti biasa Ibu segera memanggilku, kemudian berbisik menyuruhku bergegas mengusir Rusdi.
Namun Rusdi bukanlah seorang Batak tulen jika ia mudah menyerah. Rusdi pantang putus asa. Ia bersiteguh pada pendiriannya untuk tetap menunggu restu dari Bapak dan Ibuku. Jadwal bermalam Minggu atau kunjungan rutin masih tetap dilakukannya. Ia pun tetap rajin mengajakku ke tempat-tempat pertemuan sastrawan, atau menonton pertunjukan teater di TIM. Seusai menonton, kami akan mendiskusikannya. Penguasaan Rusdi akan dunia seni teater dan sastra membuatku bertekuk lutut! Aku makin jatuh cinta padanya. Lama kelamaaan aku mulai terpengaruh oleh sikapnya. “Berani karena benar”, begitu selalu yang ditanamkan Rusdi di kepalaku. Aku menjadi lebih mudah berbicara, atau memberi argumentasi jika tak sepakat, bercakap-cakap dengan bebas dengan orang yang lebih tua. Bahkan tertawa terbahak-bahak pun mulai berani kulakukan.
“Ibu, dunia tak akan runtuh hanya gara-gara aku tertawa keras Ibu!” begitu bantahku. Atau, “Mengapa kita harus diam jika kita tak setuju? Alangkah menderitanya menjadi perempuan? Apa aku tak boleh berbicara atau mengemukakan pendapatku, Bu?” Begitu sergahku. Ibu akan menunjukkan sikap tak suka, geleng-geleng kepala atau menampar mulutku yang berani.
“Gara-gara kamu bergaul dengan Rusdi dan semacamnya, kamu jadi seperti tidak terpelajar, Ariani!”
“Bukan karena bergaul dengan Rusdi, Ibu! Ini zaman modern, mengapa kita masih terikat dengan adat kuno itu? Ah, Ibu!” bantahku sambil membanting pintu kamarku dan menyetel musik keras-keras. Kemudian membuka-buka buku, atau membaca novel yang belum selesai kubaca.

***
Malam itu Rusdi mengajakku menonton pentas pertunjukan monolog yang dimainkan oleh Butet Kertaredjasa. Sebagai penggemar berat Butet, tentu aku tak menolak ajakan Rusdi. Apalagi harga tiket masuk terbilang cukup mahal. Aku meminta izin pada Ibu, meski aku yakin Ibu tak akan menyambut laporanku dengan gembira.
“Bu, nanti aku akan nonton pertunjukan monolog bersama Rusdi. Pulang malam, Bu!” kataku meminta izin dengan jujur. Aku tak pernah mendustai Ibu.
“Tidak! Sabtu yang lalu kamu pulang tengah malam dengan Rusdi. Dua hari yang lalu, keponakan Ibu melihatmu sedang bergandengan tangan dengan Rusdi di sebuah CafĂ©. Dan kamu tahu apa akibatnya? Keluarga ini jadi pembicaraan di keluarga besar kita! Ibu malu!” Ibu tak bisa dibantah.
                Aku tetap bersikeras agar bisa pergi menonton pertunjukan Butet malam nanti. Acara ini sudah kutunggu sejak berhari-hari yang lalu. Sudah kunanti-nanti! Perdebatan pun berlanjut seperti biasanya. Ah, mengapa aku yang selalu tak bersepakat dengan Ibu? Apa karena aku anak sulung dan paling dewasa di antara tiga bersaudara? Adikku perempuan masih remaja, kelas dua SMP. Mungkin belum saatnya memikirkan hal-hal seperti yang kupikirkan saat ini!
                Satu jam kemudian kulihat Ibu sedang menyiangi sayuran yang akan dihidangkan untuk makan malam. Dapur begitu sepi. Ibu memang jarang berbicara dengan pembantu. Pembantu setia kami—sudah dua belas tahun mengabdi di keluarga kami, sejak adik bungsuku berumur 3 tahun—jarang mengobrol dengan Ibu. Sedangkan aku senang berkelakar. Hubunganku dengan Umaiyya terbilang akrab. Ia juga berasal dari Sumenep. Memanggil Ibuku dengan julukan Din Aju (Den Ayu, bahasa Jawa).
                Kuintip lagi Ibuku di dapur. Pembantuku sedang mencuci daging. Ibu masih menyiangi sayuran. Saling diam, saling bisu. Keduanya tak bercakap sama sekali. Aku hanya berdiri di balik pintu. Ingin masuk dan merajuknya, tak berani. Aku melihat Ibuku berwajah muram. Jangan-jangan Ibu sedang gusar memikirkan perilakuku. Sering Ibu berbicara: sebagai anak sulung, kau harus memberi contoh pada adik-adikmu. Padahal sebagai anak sulung aku merasa beban ini begitu berat. Aku menyukai kebebasan selama itu bertanggung jawab.
                “Bu, boleh ya, Bu. Aku ingin sekali menonton pertunjukan itu! Tiketnya sudah dibelikan oleh Rusdi!” rajukku.
                “Rusdi! Lagi-lagi Rusdi! Mon nyare lalake’ se teppa’!” ujarnya tanpa menoleh.
                “Rusdi baik, Bu. Ia tak pernah kurang ajar! Kenapa Ibu membenci Rusdi? Apa karena ia orang Batak, dan bukan keturunan priyayi?” bantahku mulai emosi.
                “Bukan hanya itu! Ia kurang sopan! Ibu tak suka!” Ibu membanting pisaunya di atas baskom kaleng tempat sayuran. Suaranya mengagetkanku. Pembantuku juga terkejut, menggidikkan bahu dengan reflek.
                “Lanjutkan Umi! Sayur bening buat Bapak!” Ibu berseru sambil berjalan melewatiku.
Aku terhenyak. Sungguh tak berani membantah Ibu. Tapi, oh, bayangan Butet Kertaredjasa sedang bermonolog begitu menggoda imanku! Pelan-pelan aku berdiri dari jongkok di atas dingklik plastik, menuju ke ruang depan.
                Di kamar depan, kamar Bapak dan Ibu, kulihat Ibu sedang berbaring membaca majalah. Ah, di satu sisi Ibu gusar sebab aku tak juga menemukan jodohku meski usiaku beberapa bulan lagi hampir menginjak kepala tiga. Di sisi lain, Ibu begitu ketat memilihkan jodoh yang cocok buatku. Jujur saja, meski banyak lelaki yang mendekatiku, aku tak terlalu suka untuk cepat-cepat memutuskan pilihan. Ada-ada saja kurangnya!
                Dengan tubuhku yang tinggi semampai, wajah cukup cantik, rambut ikal panjang dan otak cemerlang kata orang, tak mungkin aku sulit mendapatkan jodoh, demikian kata Ibu berulang-kali. Padahal, aku tahu, Ibu juga suka bingung melihat betapa sulitnya aku bertemu jodoh.
                “Bu, aku akan pergi. Aku harus pergi, Bu! Teman-teman teater akan datang semua menonton pertunjukan itu! Tak mungkin kubatalkan! Rusdi sudah membelikan tiketnya, sepulang kantor akan menjemputku.”
                “Rusdi lagi, Rusdi lagi! Ibu tak mau mendengarnya! Apa kata orang dan keluarga besar kita jika anakku menikah dengan anak petani orang Batak? Kasar! Bukan keturunan priyayi!”
Telingaku seperti tersengat lebah! Sakit! Aku mencintai Rusdi dan diam-diam kami sudah mempersiapkan cincin!
                “Ibu! Zaman sekarang masih saja berpikiran kolot! Apa hebatnya keluarga bangsawan, Bu? Apa makanannya bukan nasi? Atau buang gasnya lebih wangi? Ibu…, aku tak tahan lagi dengan semua doktrinmu tentang kebanggaan akan gelar!” sungutku sambil mencoba menahan tangis.
Wajah Rusdi membayang di mataku. Rusdi, lelaki Batak yang supel dan ramah. Tubuhnya atletis. Dadanya bidang. Rambutnya ikal. Dan wajahnya mirip Richard Gere, meski berkulit agak gelap. Pekerjaannya juga lumayan. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta. Ia sukses menempuh cita-citanya sebagai anak dari keluarga miskin petani aren di Medan sana!
                Aku segera keluar dari kamar Ibu. Yang sedianya aku ingin memijiti kakinya, kali ini enggan! Ibu dengan penyakit jantungnya sering minta dipijat di bagian kaki, dan aku paling senang memijitinya karena Ibu akan diam saja sambil setengah mengantuk. Ibu akan tekun mendengarkan celotehku tentang teman-teman kampusku atau rekan-rekan kerjaku bahkan tentang laki-laki yang mendekatiku. Hingga ia tertidur. Ibuku sahabatku!
                Jam dinding sudah berdentang 5 kali. Artinya aku harus segera berangkat. Rusdi pasti sebentar lagi datang! Ia tetap bersikap jantan meskipun tahu Ibuku kurang menyukainya. Segera aku siapkan kaos dan celana jins yang akan kupakai. Rambutku yang baru saja di creambath kuikat separuh, separuhnya lagi kugerai. Kata Rusdi aku cantik jika diikat separuh seperti itu dan tanpa poni!
Tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku. Ia menatapku lekat-lekat seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Kuletakkan sisir.
“Bu, ada apa? Aku mau siap-siap, sebentar lagi Rusdi datang.”
“Jadi… kamu nekat membantah nasihat Ibu?”
“Bu…. aku mencintai Rusdi. Kami sedang mempersiapkan pernikahan!”
“Astaghfirullah! Kamu akan menikahinya? Tidak! Ibu lebih baik mati daripada bermenantu orang Batak!”
Duh, dadaku rasanya mau remuk! Ibu segera berlalu, masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Capek membantah, aku diam saja tak mengacuhkan. Kata-kata terakhirnya tadi mengganggu pikiranku. Diam-diam aku menelan ludah, menahan tetes airmata yang tertahan di pelupuk mataku.
Suara Rusdi mengucap salam mengagetkanku. Kutatap saputan bedak di wajahku terakhir kali. Aku keluar menemui Rusdi. Segera  kupamit pada Ibu.
“Bu, Rusdi sudah datang. Aku akan pergi Bu! Rusdi mau pamit!” Ibu tak menyahut. Tubuhnya tergolek menghadap ke tembok. Akupun diam saja sambil menutup kembali pintu kamar.
“Sudah, tak usah pamit. Ibu kurang enak badan.” Bisikku pada Rusdi. Aku hanya berpamitan pada adikku yang sedang membuka komputer. Pikiranku mulai tak karuan. Separah itukah kebenciannya pada Rusdi?
Pertunjukan dimulai tepat pukul tujuh. Penonton membludak, memadati gedung Graha Bhakti Budaya. Semua kursi terisi. Tata panggung begitu apik, artistik. Lampu-lampu penonton mulai dipadamkan satu persatu. Hanya tersisa lampu di bagian panggung. Terdengar nyanyian dalam iringan music etnis kontemporer sebagai latar belakang setting. Hatiku makin bergemuruh tak sabar menantikan kehadiran Butet sang aktor monolog.
Setengah jam kemudian, suara ponsel terdengar. Adikku mengirim pesan singkat. Mbak, pulang. Ibu kumat jantungnya. Begitu bunyi pesan singkatnya. Tanpa sadar airmataku menggenang. Aku berdiri panik. Rusdi ikut berdiri.
“Ada apa, Ar?”
“Ibuku, Ibuku…..” ujarku terbata-bata. Aku tak mampu menjelaskan. Rusdi ikut berdiri, menyusulku yang berjalan cepat meninggalkan arena pertunjukan. “Jantung Ibuku kumat!” sahutku tergesa. Rusdi segera membuka pintu mobilnya. Kami meluncur membelah keramaian kota Jakarta di malam Minggu itu. Kami melewati jalan tol. Rusdi mengemudi secepat kilat. Terbayang di mataku saat pertama kali Ibu kena serangan.
Oh, aku tak mau mengalami kejadian mengkhawatirkan itu lagi! Setibanya di rumah, segera aku menghambur ke kamar Ibu. 
“Ibuuuu! Ada apa? Ma’afkan aku Ibu!”
Rasa bersalahku melebihi segalanya.



Jati Asih, 30 Desember 2009

Senin, 04 Mei 2009

JULEHA

Sudah sepekan ini Juleha, --gadis dusun yang diangkat anak oleh mak Rosyidah-- mendekam di balik jeruji besi. Tak tergambar kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas.
Ingatannya melayang pada peristiwa setengah tahun lalu, tepatnya bulan Juni. Ia sedang berjalan menyusuri pematang sawah menuju rumah Ijah, sahabatnya mengaji sejak kecil.
Dari seberang sana, ia melihat seorang lelaki berparas tampan, kulitnya putih bersih, dengan dagu dan pipi kehijauan sisa cukuran. Lelaki itu melambai padanya, dan memberi senyum sambil menganggukkan kepala. Dalam jarak 10 meter, ia dapat melihat jelas wajah lelaki itu. Sesaat jantung Juleha berloncatan. Ia hampir tergelincir di pematang yang licin itu. Untung ia sanggup menguasai diri dan berjalan tegap tanpa menundukkan kepala. Rambutnya yang dikepang dua dengan poni yang meriapi dahinya tak menutupi kecantikan wajahnya. Lesung pipit dan mata bulat yang indah menawan hati setiap kumbang desa. 

Begitulah, ia semakin sering melewati pematang sawah yang menuju rumah Ijah hanya untuk melihat pria tampan itu lagi. Belakangan baru ia ketahui bahwa lelaki itu bernama Sodikin. Pegawai koperasi yang sering mampir ke kantor KUD yang terletak di seberang jalan raya. Kadang ia melihat Kang Ikinbegitu ia minta dipanggilsedang mengobrol dengan seseorang bercaping di saung tengah sawah. Dari pakaian yang dikenakannya jelas Ikin lebih bersih dan terpelajar, sedang lelaki bercaping itu, mungkin petani penggarap sawah atau pemilik sawah. Lama kelamaan pandangan mata tak cukup lagi buat keduanya, Kang Ikin mulai memberanikan diri mengantar Juleha ke rumah Ijah. Kadang naik motor memutar jalan raya dan jalan setapak, kadang melewati pematang yang sama, dengan bertelanjang kaki. Semakin lama dikenalnya, Kang Ikin memiliki pesona tersendiri bagi Juleha yang tamatan Aliyah Negeri di dusun itu. Tak ada kumbang desa yang sanggup menawan hatinya. Kang Ikinlah yang sanggup memenuhi seluruh rongga kepalanya siang dan malam, bahkan dalam mimpi. Angan angan tentang masa depan segera dirajutnya.

“Juleha, aku mau ke rumahmu boleh?”
“Ah, Akang pake nanya segala, main saja ke rumah kenalan sama Emak saya”
“Betul boleh? Akang pingin kenalan sama orang tuamu, Juleha”
“Hayu, atuh Kang. Saya Cuma punya Emak, Bapak teh sudah lama meninggal”
“Oh..begitu. Kira-kira ada yang marah nggak nanti?” pertanyaan basi, menggoda.
“Siapa yang akan marah?” Polos Juleha balik bertanya sambil mengernyitkan alis.
Sinar matahari makin menularkan cahaya emasnya pada gadis manis itu. Bulu-bulu tipis di atas bibirnya cukup menggemaskan Ikin. Makin kuat keinginannya untuk mempersunting Juleha.
“Kirain, Juleha sudah punya pacar?”
“Ah!! Akang…siapa yang mau sama saya Kang? Orang kampung….” Dikibas-kibaskannya tangannya, seolah meyakinkan Ikin bahwa ia memang belum punya pacar.
“Baiklah kalau begitu Juleha. Besok malam Minggu Akang main ya…?”
“Baik Akang. Tapi habis Isya ya? Saya ngaji dulu di musholla.” Jawab Juleha mengangguk malu dan girang.
Malam minggu masih 3 hari lagi. Juleha sudah sibuk memikirkan pakaian yang akan dikenakannya dan suguhan yang akan disiapkannya. Pasti ia akan meminta bantuan Mak Rosyidah membikinkan kue bugisnya yang terkenal enak di kampong itu.
Lima menit lagi azan Isya tiba, lalu Juleha akan segera sholat berjamaah dan pulang. Ah, tak sabar ia selalu melirik jam dinding di tembok atas depan mimbar. Yusuf sudah bersiap hendak mengumandangkan azan. Segera dipasangnya mukena, agar tak ketinggalan dan mesti menyusul seperti teman-temannya yang masih sibuk bercanda. Ia segera pulang begitu doa selesai dipanjatkan.

Setibanya di rumah, dilihatnya motor Sodikin sudah mematung di depan rumah Juleha. Ia masuk ke halaman dengan membawa hati yang berdegup kencang.

“Assalamu’alaikum. Kang Ikin? Sudah datang?” Disambutnya wajah yang dirindunya dengan senyum sumringah.
“Maaakk….! Kuenya mana? “ Setengah berteriak ia memanggil Emak sambil meletakkan mukena di kursi tengah ruang dalam. Emak keluar dari dapur.
“Ya, sabar! Emak lagi susun di piring.” Senyum ceria menghiasi wajah Emak dan Juleha.
“Cepat Mak. Minumnya mana?”
“Ini, sudah. Teh manis hangat, pake gula batu. Bawa sana!” seru Emak sambil menyodorkan baki. Juleha menyambut baki itu dan melangkah keluar dengan dada tegap. Ia berusaha mengatasi rasa gugupnya, merasa diapeli! Ini adalah saat pertama dalam hidupnya dikunjungi lelaki tampan pujaannya.
“Silakan Kang, diminum. Ini kue bugis khas buatan Emak. Sudah terkenal di kampong sini. Sering dipesan tetangga kalau ada kendurian!”
“Wah, terima kasih Juleha. Akang mereptkan saja.” Sodikin segera merapikan duduknya.
Malam merambat pelan diselingi percakapan ringan yang penuh kehati-hatian. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Mungkin 6 7 tahun. Sodikin cukup matang untuk menikah. Rasanya tak mungkin jika ia belum menikah.
“ Julrha, Akang pulang dulu ya..” Ikin memecah lamunan Juleha.
“Eh, akang kok buru-buru?”
“Iya, nggak enak sama Emakmu. Sudah malam.”
“Saya panggil Emak dulu ya?” Juleha segera beranjak memanggil Emak.
Emak keluar dengan wajah sumringah seakan menyambut calon menantunya.
“Mau pulang. Ikin? Ya sudah, lain kali datang lagi ya, jangan bosan..”
Ikin segera mengulurkan tangannya pada emak. Tangan Emak yang hobi memasak terasa dingin dan halus.
Tak disangkanya Mak Rosyidah  tampak lebih muda sebagai Ibu Juleha. Sodikin bingung mau memanggil Ibu, atau apa. Tapi karuan  saja ia memanggil Ibu pada Rosyidah. Sembari membungkukkan kepala, ia berpamitan.
Sejak saat itu, bermalam Minggu di rumah Juleha menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya. Julehapun terbuai dengan kehadiran Ikin mengisi hidupnya.
Sudah empat bulan mereka berpacaran. Begitu pandainya Juleha menjaga kehormatyannya meski beberapa kali kesempatan itu terbuka lebar. Kadang mereka berjalan-jalan ke kota, ke mal dan pulang selalu kemalaman, Rosyidah tak pernah marah. Ia percaya pada Sodikin yang pasti akan membawa anaknya pulang dengan selamat.
Ia menceritakan secara tentang status Juleha sebagai anak angkatnya. Kasih sayangnya kepada Juleha bagaikan anak kandungnya. Julehapun mengerti bahwa ia bukan anak kandung Rosyidah. Juleha adalah anak kandung saudara sepupu Rosyidah, perempuan,  yang mati dalam kecelakaan bis antar kota. Ayah kandungnya pergi ke Arab dan tak pernah kembali sejak istrinya meninggal lalu Juleha diangkat anak oleh Rosyidah dan Mastur, suaminya. Pasangan itu memang belum dikaruniai anak setelah 10 tahun menikah.  Itu terjadi ketika Juleha berumur 4 tahun. Mastur meninggal karena sakit paru-paru sejak Juleha menginjak kelas satu SMP.
                                                                        * * *
Ikin menarik nafas panjang sambil membelai rambut wanita itu. Ia mendengar dengan hati hati setiap cerita yang diungkapkan wanita cantik itu. Rambut yang hitam bak mayang terurai benar benar memabukkan hasrat Sodikin untuk terus bercumbu dengannya. Wanita itu jauh lebih matang dari Juleha. Sodikin tak kuasa menolak pesonanya. Apalagi wanita itu menyambutnya dengan penuh hasrat yang terpendam, seperti rumput kering yang menantikan hujan. Jika Sodikin membandingkan antara keduanya, jelas ia lebih memilih yang lebih matang dan dewasa. Juleha masih sangat polos dan kekanak-kanakan. Mungkin ia juga belum begitu berpengalaman dalam memperlakukan laki-laki. Setiap Malam minggu ia tetap menemui Juleha dengan setia. Sedangkan hari-hari biasa ia kerap menemui wanita itu di tempat yang sama, kontrakannya di kota.
“Sayang, kapan kamu akan berterus terang pada Juleha tentang kita?” Desak Sodikin.
“Entahlah. Apa aku tega untuk berterus terang padanya? Ia sangat mencintaimu”
“Tapi cepat atau lambat Juleha harus tahu, dan aku harus menjauhinya.”
Menjauhinya? Kamu pikir akan semudah itu bagi dia? Kamu tidak tahu bahwa ia sangat memujamu. Setiap hari yang dia ceritakan hanya Kang Ikin akan begini, Kang Ikin akan begitu, Kang Ikin….Kang Ikin…..begitu terus! Mana mungkin aku tega melukai hatinya?” Suara wanita itu berbisik agak keras.
“Tapi aku sudah tidak tahan ingin segera menikahimu. Aku tak nyaman dengan keadaan ini.”
“Sabarlah, nanti akan aku cari waktu yang tepat.”
Begitu terus yang diucapkan wanita matang itu. Sodikin hampir bosan mendengarnya. Ia sudah tak bisa lagi berpura-pura mencintai Juleha. Meski ia pernah mencium kening Juleha satu kali.
Mereka melanjutkan cumbu mereka hingga matahari menyambut sore. Sebuah pemandangan yang biasa jika Sodikin mengundang wanita itu datang ke kontrakannya di kota. Mereka sama-sama mabuk asmara.
                                                                            * * *
“Maaakk…….!!!! Apa yang Mak lakukan di sini?”
“Julehaaaa!!!!” Sodikin dan wanita kekasihnya segera melepaskan pelukannya dan berdiri sambil membenahi pakaian.
“Kang Ikiiiiiinn….??? Sudah sejak lama aku melihat Akang memperhatikan Emak lebih dari biasanya! Aku benci kalian. AKu benciiiii!!!!”
Juleha naik pitam, menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Ia lemparkan semua barang yang ada dan terjangkau tangannya. Buku-buku, botol parfum, minyak rambut, sisir dan sebagainya. Ia mengamuk.
“Julehaaa!!! Dengarkan dulu Juleha!!! Dengarkan!!! Akang mau menjelaskan sesuatu!!” Sodikin memegangi tangan Juleha. Rosyidah menangis tergugu dipojok ranjang. Ia tak sanggup berkata-kata.
“Apaaa…..??? Apa yang akan Akang jelaskan? Akang telah mempermainkan hati saya!!!!”  Juleha memukul-mukul tubuh atletis Sodikin.
“Aku jatuh cinta pada Mak angkatmu, Rosyidah. AKu mencintainya dan akan menikahinya Juleha!!” Sodikin memegang tangan Juleha. Ia bertelekan lutut pada lantai sambil menghiba. Wajahnya tampak memelas.

“Apaaaa….???? Apa Akang bilang??? “ Juleha berusaha sekuat tenaga melepas pegangan tangan Sodikin yang kuat. Ia berlari menuju dapur, mengambil sesuatu, lalu berlari kembali menuju kamar, sementara Sodikin yang hendak mengejar Juleha ke dapur berpapasan di depan pintu kamar. Sebilah pisau tajam ia tancapkan di dada Sodikin. Rosyidah menjerit-jerit melihat adegan itu. Sodikin ambruk bersimbah darah. Juleha mematung. Matanya nanar melihat Kang Ikinnya bersimbah darah dan sekarat. Lehernya begoyang goyang reflex menahan getar.

Sesaat kemudian polisi datang, gadis itu hanya menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol, meski matanya tak lepas menatap dingin pada  Sodikin yang pias.

Jati Asih,  Mei 2009