Tampilkan postingan dengan label Dimuat di Harian Suara Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dimuat di Harian Suara Karya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

Cerpen

Kematian Raja
Oleh: Weni Suryandari
Perempuan itu mendengus perlahan sambil meraba-raba keningnya. Kening yang semalaman dirasakannya mengucurkan darah kini tak terasa basah, hanya ada bekas luka keringnya, tetapi seluruh persendiannya seakan lepas dan membutuhkan sandaran.
Pagi bertabur keheningan saat sepasang matanya menembus tirai kabut. Kokok ayam bersahutan di belakang sebuah bilik panggung beratapkan daun rumbia. Perempuan itu mengendus-endus bau busuk yang menguar di sekitarnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menguceknya, lalu bangkit membetulkan kainnya yang longgar. Dilihatnya sisa masakan ikan patin  semalam sudah digerogoti tikus di pojok dapur.
Sisa pembakaran tungku semalam belum reda. Bau asap menguar makin pengap di bilik sempit  yang hanya dilapisi  bambu itu. Asap menerobos keluar dari celah-celah lubang kecil di sudut kanan dinding. Mungkin hanya selebar  daun jati tetapi cukup untuk membuat pekat asap berkejaran saling mendahului untuk keluar dari bilik pengap itu.
“Faridaaa….Faridaa….” sebuah suara berat menggedor-gedor kepalanya. Pusing segera menjalar secepat kilat. Tubuhnya gemetaran. Ia nyaris lemas.
“Farida…! Cepat! Kopiku mana??” seru suara itu. Ah, beruntunglah suara itu hanya meminta segelas kopi. Padahal ia telah menyiapkan bara api semalaman jika lelaki itu berani menghampirinya lagi. Belum usai tubuhnya pulih dari rasa sakit sisa pukulan kemarin.
Perempuan itu segera menyalakan tungku lagi. Ia menjerang sedikit air untuk membuatkan kopi bagi Raja, suaminya.
Mengapa perempuan harus berada dalam posisi yang tak bisa mengelak? Apa salahku hingga aku harus menderita seperti ini, Mak? Bukankah dulu Mak yang memaksaku menikah dengan Raja anak Penghulu Desa itu? Bukankah kata guru ngaji,  jika kupatuhi perintah Mak, maka seorang anak akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya? Namun apa buktinya sekarang? Aku tidak bisa bergerak lagi. Aku terkurung dalam gigil sunyi tanpa batas  di belakang rumah suamiku, Raja. Buliran air mata menetes di pipinya. Air mata yang menembus ulu hatinya, yang telah lama mengendap di bilik jantungnya. Airmata yang belum lagi memerah darah, mungkin sedang menunggu saat paling genting. Atau menunggu ajalnya tiba? Farida menghela nafas panjang.
Perlahan ia melangkah mendekati meja  makan. Raja tak terlihat. Mungkin ia sedang memainkan burungnya di halaman depan. Halaman yang dikelilingi pepohonan rambutan dan mangga, di tutupi pagar tembok dan pintu gerbang besi yang  berukuran lebih tinggi dari ukuran manusia. Rapat, sebab tak pernah sekalipun seseorang bertandang atau berlalu lalang di tempat ini. Bahkan Farida tak dapat keluar dari sini.
“Da! Sudah?” Farida  kaget dan reflek menggerakkan bahunya.
“Sudah, Bang…”
“Da! Ke sinilah kau! Mengapa kau begitu takut padaku? “
Ia menyeruput kopinya sambil mengangkat kakinya sebelah. Farida mendekat.
“Berapa tahun sudah kita menikah?” Farida menunduk.
“Berapa tahun, Da?” Farida membisu.
Kepalanya berputar-putar. Ia tak ingat hari. Tak pernah melihat-lihat kalender, tak pernah menghitung berapa kali sudah matahari dan bulan berganti tugas. Ia sama sekali tak ingat!
“Da, kita sudah menikah lebih dari tiga tahun.” Lelaki itu melanjutkan.
“Maksudku, kau belum memberiku seorang anakpun. Kira-kira apa yang ada dalam pikiranmu?”
Farida menggeleng. Sepasang airmata berdenting di lantai. Lagi!
“Nah, aku ingin punya anak, Da! Aku ingin menikahi Linda, anak Engkoh Cin pemilik Kedai Borjuis di kota. Kau tahu kan? Linda itu cantik, muda dan segar. Pasti ia bisa memberiku keturunan yang cantik dan tampan. Ha ha ha…” Ia lupa apa yang diperbuatnya semalam pada Farida. Seringainya membuat kumis baplangnya bergerak-gerak.
Ah, Farida tak pernah memperhatikan kumis Raja. Ia menikah tanpa memperhatikan sosok laki-laki itu dari dekat. Menurut petuah-petuah para tetua, perempuan pantang menengadah, menatap  lawan jenis, atau sekadar menggelengkan kepala untuk mengungkapkan isi hatinya, ketidaksetujuannya. Suara Mak yang lembut dan Bapak yang keras, membuatnya benar-benar tumbuh menjadi gadis manis dan penurut.
“Da! Jawablah! Kau setuju bukan? “ Farida membungkam. Linda atau siapapun perempuan yang akan dinikahi Raja, bukanlah masalah baginya. Ia tak kenal. Ia tak pernah keluar rumah, tak pernah ke kota. Toko Borjuis atau Toko Sederhana sekalipun, ia tak tahu dan tak perduli.
“Kau istri tak berguna Da! Tak bisa memberiku keturunan, kerjamu hanya dapur dan sumur.”
Farida mengerang keras, hanya dalam hati, hanya telinganya yang mendengar. Ia segera membalikkan badan, menuju ke rumah belakang lagi. Membisu tanpa desah nafas sekalipun.
Ia harus segera menyiapkan air panas untuk mandi suaminya, lalu memasak makanan kesukaan Raja, sambal goreng petai dan patin kuah asam. Dapur dan sumur, itulah dunianya. Kasur? Oh, nanti dulu. Ia hanya dipanggil ke dalam rumah utama jika Raja ingin mengajaknya bercumbu dalam kesakitan dan derai airmata tak berkesudahan. Sebuah percumbuan dengan paksaan, sebab tak berlandaskan cinta. Terus menerus hingga kentongan peronda malam berbunyi tiga kali. Waktu yang paling menguntungkan baginya hanyalah saat Raja pergi ke kota membawa pundi uangnya dan berjudi hingga dini hari, lalu pulang dengan bau mulut sisa minuman tuak yang ia bawa tidur.
Pernah ia hendak memanjat pohon dan melompati pagar pada tengah malam, demi melarikan diri dari penjara rumah tangganya yang kejam. Namun kainnya tersangkut di antara tajam besi pagar dan ranting pohon. Ia terjerembab. Menangis pun takkan ada yang mendengar. Ia kembali ke rumah utama dengan menahan tetes darah di pahanya.
“Da, aku akan membawa Linda pulang, nanti sore. Kau siapkan kamar dan masakan yang lezat, agar ia betah tinggal di sini, Da…” Farida tersentak. Ia tak menyangka akan secepat itu. Nanti sore?
Perempuan itu menelan ludah yang sedari tadi tercekat di kerongkongannya. Ia mengepalkan jemarinya.
“Bang, apa tak sebaiknya saya abang ceraikan? Bukankah Abang akan lebih bahagia nantinya?”
“Apa katamu? Tak mungkin aku menceraikanmu. Siapa nanti yang akan mengurusku Da?”
“Bukankah ada istri baru Abang? “ ia enggan menyebut nama perempuan yang akan menghuni rumah ini.
“Hei! Linda tak akan kusuruh mengurus rumah. Ia cantik, Da! Tak sepertimu, lusuh dan berbau udik.” Betapa ringannya lidah Raja berkilah seperti itu.
Farida menahan gemas. Jika demikian maksud Raja, pupuslah harapannya selama ini.
“Da. Kamu tetap istriku. Linda juga istriku. Kalian berdua tak akan terpisahkan dari sisiku. Setiap istri punya tugasnya masing-masing. Begitu ‘kan? Ibumu akan berbahagia di alam sana, melihatmu menjadi istri yang berbakti untukku. “ seperti biasanya Raja selalu menggunakan kalimat itu sebagai senjata untuk melumpuhkannya. Farida menekuk muka.
“Masak yang lezat ya, Da. Jangan sampai Linda kecewa karena masakanmu tidak enak.”
Seringan lidahnya mengucapkan kata-kata itu, ringan pula langkahnya keluar rumah. Kunci gembok  tak lupa ia bawa serta. Ia tak ingin istrinya keluar rumah pada saat dirinya tidak ada.
“Bang! Abaaang! Aku ikut Bang! Aku ingin bertemu dengan calon maduku.” Kepala Farida mulai dipenuhi  siasat. Ia berlari mengejar Raja di halaman. Kainnya berseliweran, hampir saja kakinya  terantuk batu kecil di anak tangga terakhir. Ia segera menguasai diri dan melangkah tertatih-tatih.
“Untuk apa? Kamu menunggu di rumah sajalah. Aku harus bertemu dengan Engkoh Cin dulu.”
Farida merenggut tangan Raja. Belum pernah ia lakukan hal ini seumur perkawinannya. Ia merajuk dengan terpaksa, mengusir muak yang bertahun-tahun bersarang di benaknya. Raja mengernyitkan sebelah alisnya. Mulutnya berkerut, mengerucut. Matanya tajam menatap Farida. Ditepiskannya tangan perempuan itu.
 “Bang…ajak aku serta! “ Farida berlutut di bawah kaki Raja. Ia memohon dengan wajah memelas. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan hanyalah berlutut.
“Masuk! Masuk!! “ Bentak lelaki itu sambil menendang tubuh Farida, mengenai pahanya. Farida terjerembab. Raja segera keluar, pagar besi pun tertutup rapat.
Ia tak percaya begitu sulitnya untuk  mengelak takdir.
Beberapa ekor ikan patin yang dibeli Raja kemarin pagi belum diapa-apakan. Ikan-ikan itu masih asyik berenang di sebuah bak besar. Ia tak tahu akan berbuat apa, mana yang harus dikerjakannya lebih dahulu. Menangkap ikan itu dan memukul kepalanya, atau mengupas bumbu dan menyiapkan tungku kayu.
Ia menahan rasa sakit di pahanya. Kini wajah perempuan yang disebut-sebut bernama Linda itu memenuhi kepalanya. Ia belum pernah melihatnya, tak pernah mengenalnya. Seperti apa Raja memperlakukannya nanti? Seperti dewi kahyangan ataukah seperti dirinya?
Pernah satu kejadian lagi pada siang hari, kunci gembok tergeletak di atas meja rias. Raja tertidur pulas, dengkurnya keras. Ia ambil  kunci itu diam-diam, namun terjatuh, menimbulkan suara keras. Raja terkejut dan menghardiknya.
“Farida! Apa yang mau kau lakukan? Ha?” serentak Raja bangkit dan sigap mengambil kunci yang tergeletak di lantai. Farida pucat, tercekam ketakutan.
“Da! Kau mau kabur ya? Ngaku!” serunya membelalak. Ia jambak rambut Farida. Farida meringis kesakitan. Ia membisu. Bibirnya gemetar.
“Awas kalau kau berani! Dasar perempuan tak tahu diuntung!” ia hempaskan tubuh ringkih Farida ke lantai. Ia tak menangis, sudah terbiasa. Farida segera berlari menuju dapur belakang. Sejak saat itu ia tak pernah berani lagi mencuri kunci gembok untuk yang ketiga kalinya.
Suara Raja dan suara tawa kecil perempuan dan celotehnya yang nyaring mempertegas kehadiran perempuan lain di rumah itu. Ia segera menuju ruang depan
 “Farida! Kenalkan, ini Linda. Lihat, cantik bukan?” Raja menyeringai penuh ejekan. Apa maksudnya? Tanpa mengejekpun Farida sudah terlalu luka. Perempuan itu mengulurkan tangannya. Farida tersenyum kering. Meja makan kosong. Sebentar lagi Raja pasti membentaknya.
 “Da, mana makanan kesukaanku? Kau belum buatkan?” Farida menggeleng.
Ia segera menuju dapur. Satu jerigen minyak tanah masih belum terbuka tutupnya. Satu jerigen lagi sudah sisa seperempatnya. Ia segera menyerok ikat patin itu dengan jaring. Ia pegang ikan yang paling besar. Ia pukul kepalanya dengan gagang pisau. Wajah Raja dan perempuan itu sedang tergolek di kamar membayang jelas. Kamar yang telah dirapihkannya dengan kelambu putih yang menjuntai dan seprai putih  sesuai perintah suaminya.
Farida membawa masakan patin ke dalam rumah utama. Tak terdengar suara, sunyi semata. Kunci gembok tergeletak di meja makan. Terbetik keinginan untuk lari. Tapi ia takut Raja akan memburunya. Ia buka pintu yang memang setengah terbuka. Kedua insan itu sedang nyenyak  dengan busana yang terbuka sebagian. Jerigen minyak tanah segera ia siramkan ke kelambu, ranjang kapuk dan tubuh keduanya. Ia habiskan seluruhnya tanpa sisa. Basah dan bau minyak tanah begitu menyengat.
 “Farida! Apa yang kau lakukan bedebah??” suara Raja menggelegar. Perempuan di sampingnya terkejut membuka mata.
Tangan Farida gemetar sambil menyulut sebatang korek api, ia lemparkan ke atas selimut, sebatang lagi ke pakaian keduanya, sebatang lagi pada seprai, ia biarkan kamar berkobar dengan bibir gemetar. Ia raih kunci gembok di meja makan, sambil berlari dan terus berlari tanpa menoleh lagi.
Lolongan sepasang manusia itu terdengar merdu di telinganya. Farida tersenyum  menembus bening udara dan cahaya yang menyambutnya. Petuah leluhurnya samar samar dan patah patah mendengung sayup di otaknya.
Jati Asih, Maret 2011





Jumat, 01 Januari 2010

Bau

Sejak matahari terbit, lelaki legam itu kerap membungkukkan badan. Tangannya memegang sekop dan sapu lidi. Ia menguras tempat sampah. Kotak  tembok  permanen, dibangun dari batu bata dan semen. Selembar seng tebal di atasnya digunakan sebagai penutup, agar bau tak menyebar. Tampak seng itu separuh kusam oleh karat. Alasnya seakan menyatu dengan tanah. Lalu, bau bangkai itu dari mana?
Lelaki separuh baya itu dirayapi lelah. Ia dirasuk bingung. Selama seminggu lebih ia dipenjara bau bangkai. Bau yang menghebohkan. Bau yang kerap menyelinap sekitar rumah.
 Peluh mengucur dari seluruh pori-pori tubuhnya, kaos oblongnya basah. Juga dari pelipis dan dahinya namun ia tetap tekun membersihkannya. Ia tak jijik lagi pada sisa-sisa makanan basi, belatung dan ngengat yang bertebaran di sekitar tempat itu. Padahal biasanya, mengangkut sampah dan membersihkan sisa-sisanya yang berceceran adalah pekerjaan tukang  angkut sampah, truk yang lewat setiap tiga hari sekali.  Sekaleng karbol pun sudah dihabiskannya untuk membunuh kuman-kuman di situ. Penting baginya untuk membuat sekeliling rumahnya tetap wangi sebab ia tak ingin membuat istrinya berteriak-teriak sambil menutup hidungnya. Tubuhnya yang legam kian mengkilat. Mengundang kemilau matahari untuk bercermin di permukaan kulitnya.
Lelaki itu tetap mencangkung pundak. Istrnya belum berhenti berteriak. Ia makin kebingungan. Teriakannya begitu memekakkan telinga. Seperti suara gesekan pisau pada lembaran seng. Nyilu di gigi! 
Pak! Bau.! Aduh, bau.! begitulah teriakan istrinya selalu.
Lelaki itu melepas sekop dan sapunya segera. Ia tak tahan mendengar istrinya berteriak, bergegas menemuinya yang sedang berleha-leha di kursi ukir depan televisi. Itulah singgasana istrinya sehari-hari kecuali dapur, sumur dan kasur. Kaleng karbol kosong yang masih berada di sekitarnya terguling tertimpa batang sapu. Padahal ia merasa tempat itu sudah menguarkan wangi karbol sekarang. Mengapa sang istri masih ribut berteriak?
Sudah Bapak bersihkan Bu, masak sih masih bau?
Masih Pak, masih bau! Bapak kurang kuat membersihkannya barangkali! sungut istrinya sambil mengipasi hidungnya.
Sudah tidak ada sampah, Bu. Bapak sudah menghabiskan karbol satu kaleng!
Tapi kok masih bau? Cari bangkai tikus di sekeliling rumah Pak!
Wah, Bu. Bapak sudah sepanjang pagi membersihkan tempat sampah. Besok saja, ya? suaranya tersengal.
Yah, pokoknya kalau masih bau aku nggak bisa tidur! manja istrinya. Suara berita di tv masih keras menggema.
Sebenarnya sudah hampir dua pekan ini Bu Darmi, sang istri,  tak bisa tidur. Ia mengaku selalu merasa mencium bau-bauan busuk di sekitarnya. Setiap kali terjaga, ia selalu mengomel. Bagaimana ia tidak mengomel, sebab bau-bauan itu bukan bau cendana, kenanga, bunga-bungaan, bahkan dupa. Bau-bauan itu beraroma busuk. Kadang seperti bau bangkai menyengat, lalu berangsur-angsur pudar, berganti dengan bau busuk  anyir darah haid wanita. Kadang hanya dalam hitungan sepersekian detik bisa berubah menjadi bau toilet terminal.
Dua hari kemudian, ketika suara tivi begitu nyaring menayangkan sebuah berita wawancara kasus korupsi, Bu Darmi terbangun dari kursi ukirnya. Serta merta ia bangkit sambil marah-marah dan memanggil suaminya. Sebab ia yakin bau tersebut bukan berasal dari halaman rumahnya. Tapi dari berita korupsi yang marak dari televisi. Layar kaca dirasakannya menguarkan bau busuk. Jika televisi mati, ia menduga bau busuk itu berasal dari atas loteng, atau dari halaman mungil di balik semak rumpun tanaman asoka yang rimbun. Tempat itu sering sekali dijadikan tempat kucing muntah atau meninggalkan  kotoran. Pokoknya, bau busuk selalu hadir di cuping penciumannya. Geger seluruh warga!
Pak! Bau,,! Cari di depan sana, atau di dekat got.
Bau apa lagi sih Bu.? rungut suaminya kesal. Ia tak mencium bau apa-apa.
Bau busuk, sampah atau bangkai barangkali. Cari Pak.!
Lelaki itu bersungut-sungut, koran yang dibacanya diletakkannya kembali. Ia bergegas menuju halaman. Istrinya masih berteriak-teriak. Teriakannya serak, kasar dan berhenti hanya sebentar-sebentar.  Ia tak sadar bahwa omelannya membahana di seluruh perumahan lingkungan RT dan akan mengguncangkan seluruh warga. Hari Sabtu siang begini suasana sunyi. Cuaca panas membuat orang enggan keluar rumah. Bahkan anak-anak kecil pun hanya bermain di teras tetangga yang kebetulan jauh lebih luas dan asri.
Lelaki yang dikenal sabar itu bernama Pak Ribut. Kesabaran menghadapi istrinya luar biasa.  Ia maklum, sejak kematian bayi mereka istrinya begitu murung dan mudah tersulut oleh emosi. Pasalnya, bayi tersebut adalah satu-satunya dambaan mereka setelah lebih dari delapan tahun menikah. Apalagi meninggalnya  karena kasus malpraktek dokter anestesi yang menanganinya.
Sejak itu perangai Bu Darmi berubah. Konon, seorang pembantu pernah berperkara dengannya, lalu keluar karena tak tahan. Meski sudah dicegah oleh Pak Ribut dengan rayuan maut majikan.
Pak, sudah dibersihkan? Sudah agak hilang…” Seru istrinya sembari mengendus endus. Hidungnya yang bangir kembang kempis. Senyumnya mengurai perlahan. Pak Ribut tercenung mendengar kata-kata istrinya yang tak panik lagi. Hilang? Apanya yang sudah agak hilang? Bahkan mencari sumber bau pun belum. Alih alih membersihkannya. Ia baru saja mencari dengan matanya, belum tangannya. Bahkan belum juga beranjak dari lantai teras di depan pintu. Ia masih mematung.
Pak Ribut lega. Setidaknya untuk sementara. Jika sewaktu-waktu istrinya berteriak lagi, maka kelegaan hatinya akan segera menguap. Saking seringnya begitu, Pak Ribut bahkan hampir merasa tak ada beda antara suara ribut, suara tenang, kesenyapan, kemesraan bahkan gejolak birahi di tempat tidur. Namun Pak Ribut masih menyayangi istrinya yang cantik dan sintal. Kulitnya kuning langsat dengan rambut tebal hitam dan panjang. Lehernya yang jenjang membuat Pak Ribut selalu merasa kagum. Anak rambut di tengkuknya itu yang membuat Ribut muda kasmaran. Pak Ribut berperawakan kurus dan tinggi. Berkulit legam. Jika mereka berjalan berdua di pasar, banyak yang tertawa sebab akan mengira, seorang wanita cantik sedang ditemani supirnya.  Ah, orang pasar memang ada-ada saja gunjingannya!
Sementara persoalan bau sudah mereda, Pak Ribut kembali ke ruang kerjanya, Bu Darmi kembali ke dapur. Suasana sunyi. Hening. Hanya  suara denting piring beradu atau pisau jatuh.
Bu Darmi..! Bu Darmi…!” Sebuah suara wanita berteriak sambil menggedor-gedor  pintu depan dengan keras. Bu Darmi tergopoh-gopoh. Ia letakkan pisaunya, segera bergegas ke pintu depan sambil bersungut-sungut. Ia paling tak suka dengan tetangga yang mengetuk pintu terlalu keras, atau, jika belum dibukakan, secara tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya tanpa salam. Ada beberapa tetangga yang seperti itu. Tetapi suara di depan itu ia faham benar. Suara Bu Nafsiah yang sering menawarkan seprai batik dagangannya dari Solo.
Ada apa Bu? Kok seperti kesetanan?
Ibu mencium bau sesuatu?
Bau apa? Biasanya ya ada! Kalau saya lagi leyeh leyeh, ya ada!
Saya mencium bau sangit Bu. Bau busuk sampah. Padahal sampah sudah diangkut truk sampah dan sudah kusiram karbol. rupanya Bu Nafsiah punya persoalan yang sama.
Lha saya juga. Tapi sekarang sudah tak bau lagi.
Oh, begitu. Saya mau bawa dagangan dulu ke Encik depan. Encik depan yang dimaksudkannya adalah seorang Cina asal Pontianak pedagang emas di Pasar Kecapi. Belum juga Bu Nafsiah berlalu, Encik Liem menghambur bersama beberapa Ibu-ibu yang biasa berkeliaran ketika  tukang sayur berderet pagi-pagi. Bu Darmi bingung. Ada apa, kenapa tiba-tiba semua ibu-ibu mendatangi teras rumahnya?
Eh, ada tercium bau busuk nggak? Aku menciumnya dari kemarin. Padahal tempat sampah sudah kubersihkan dengan karbol. Sudah diangkut pula! Bu Hadi nyerocos.
Ya, aku juga. Kemarin sepulang rapat dari masjid bau itu makin tajam! seru Bu Sarwoko.
Aku pesan sea food dua hari lalu, tapi sudah diangkut sama truk sampah. ujar Encik.
Jadi bukan dari tempat sampahmu?
Bukan dong, tempat sampah saya bersih, ujarnya lagi. Di antara semua tetangga, memang hanya Encik Liem yang tempat sampahnya bersih. Ia telaten membersihkan sampahnya.
Encik melanjutkan membongkar tas isi dagangan milik Bu Nafsiah. Ia tak hirau percakapan itu. Bu Nafsiah juga tak hirau. Ia sudah mendengar gosip itu sejak dua hari yang lalu dari suaminya. Bau busuk juga belum reda dari penciumannya. Pak Ribut menyeruak dari dalam rumah. Melihat suami Bu Darmi keluar, ibu-ibu segera berdiri. 
Pak..maaf. Rame ya? Bergosip siang-siang! seru Encik.
Bau busuk di sekitar sini ya, Pak? Ada apa ya, Pak? seru lainnya serempak. Mereka tak jadi bubar.
Kita harus lapor pak RT atau Pak RW. Mungkin penanganan sampah kurang maksimal. Seru Bu Darmi. Memang ia yang paling terpelajar di antara Ibu-Ibu itu. Ia sarjana ekonomi dan pernah bekerja di LSM. Ia pun pernah menjabat sebagai ketua PKK selama satu periode.
Nanti akan saya minta Pak RT untuk rapat jika ini mengganggu ketentraman warga. Ini polusi yang harus dicegah. jawab Pak Ribut.
Iya, padahal RW kita juara satu dalam program penghijauan.
Betul!  Jadi percuma jika masih ada polusi  udara Pak.
Hidup jadi tak nyaman,
Betul!! Suami istri jadi sering ribut karena persoalan bau ini!
Truk sampah dan tukang angkutnya jadi kita marahi habis-habisan.
Padahal iuran sampah sudah dinaikkan!
Anak-anak tak bebas bermain karena udara beraroma busuk!
Pak Ribut mengangguk-angguk sambil mengernyitkan alis. Ia mendengarkan semua protes ibu-ibu yang sebagian besar barangkali berasal dari keluhan para suaminya. Segera ia masuk, meneruskan bacaannya. Kerumunan ibu-ibu di teras Bu Darmi belum juga bubar. Ibu-ibu dari gang sebelah, dari RT sebelah,  berdatangan seperti rayap. Mereka makin memadati teras Bu Darmi.  Bahkan tumpah ke jalanan serupa antrian minyak tanah. Bu Darmi tak bisa lagi kembali ke dapur. Ia ingat, keluhan serupa juga pernah disampaikan oleh warga RT lain di blok tetangga, saat berjumpa di pasar. Juga warga RW lain waktu ada pertemuan PKK di kelurahan. 
Bu,  bau apa ya? Sepertinya dari rumah ini sumbernya? semua hampir serempak mengucapkan itu. Bersahut-sahutan. Seperti  dengung lebah, makin banyak suara-suara di udara.
 Bau apalagi sih Bu? suara Pak Ribut setengah berteriak kesal menyeruak lagi di antara  gerombolan ibu-ibu.
 Aduh, bau!! Makin menyengat Pak! Segera lapor Pak RT dan RW, pak!  Jika perlu malam ini, mumpung malam Minggu.
            Pak Ribut terbelalak, membeliak, mulutnya menganga seperti gua tanpa mampu mengatup lagi.  Matanya nyalang. Ia menatapku
Aku berdiri di belakang kerumunan itu tanpa seorang pun menyadarinya.  Rambutku panjang dan kusut masai, berbaju putih dan lusuh, wajah pucat, dan anaknya, yang masih bayi dalam gendonganku masih meneteskan darah. Bukankah dia yang memutuskan untuk melakukan aborsi?
Udara sunyi, angin berhenti bertiup, orang-orang beku. Denting waktu berdetak makin keras. Jantung lelaki itu berlompatan.



Jati Asih, Januari - Maret 2010

Senin, 04 Mei 2009

JULEHA

Sudah sepekan ini Juleha, --gadis dusun yang diangkat anak oleh mak Rosyidah-- mendekam di balik jeruji besi. Tak tergambar kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas.
Ingatannya melayang pada peristiwa setengah tahun lalu, tepatnya bulan Juni. Ia sedang berjalan menyusuri pematang sawah menuju rumah Ijah, sahabatnya mengaji sejak kecil.
Dari seberang sana, ia melihat seorang lelaki berparas tampan, kulitnya putih bersih, dengan dagu dan pipi kehijauan sisa cukuran. Lelaki itu melambai padanya, dan memberi senyum sambil menganggukkan kepala. Dalam jarak 10 meter, ia dapat melihat jelas wajah lelaki itu. Sesaat jantung Juleha berloncatan. Ia hampir tergelincir di pematang yang licin itu. Untung ia sanggup menguasai diri dan berjalan tegap tanpa menundukkan kepala. Rambutnya yang dikepang dua dengan poni yang meriapi dahinya tak menutupi kecantikan wajahnya. Lesung pipit dan mata bulat yang indah menawan hati setiap kumbang desa. 

Begitulah, ia semakin sering melewati pematang sawah yang menuju rumah Ijah hanya untuk melihat pria tampan itu lagi. Belakangan baru ia ketahui bahwa lelaki itu bernama Sodikin. Pegawai koperasi yang sering mampir ke kantor KUD yang terletak di seberang jalan raya. Kadang ia melihat Kang Ikinbegitu ia minta dipanggilsedang mengobrol dengan seseorang bercaping di saung tengah sawah. Dari pakaian yang dikenakannya jelas Ikin lebih bersih dan terpelajar, sedang lelaki bercaping itu, mungkin petani penggarap sawah atau pemilik sawah. Lama kelamaan pandangan mata tak cukup lagi buat keduanya, Kang Ikin mulai memberanikan diri mengantar Juleha ke rumah Ijah. Kadang naik motor memutar jalan raya dan jalan setapak, kadang melewati pematang yang sama, dengan bertelanjang kaki. Semakin lama dikenalnya, Kang Ikin memiliki pesona tersendiri bagi Juleha yang tamatan Aliyah Negeri di dusun itu. Tak ada kumbang desa yang sanggup menawan hatinya. Kang Ikinlah yang sanggup memenuhi seluruh rongga kepalanya siang dan malam, bahkan dalam mimpi. Angan angan tentang masa depan segera dirajutnya.

“Juleha, aku mau ke rumahmu boleh?”
“Ah, Akang pake nanya segala, main saja ke rumah kenalan sama Emak saya”
“Betul boleh? Akang pingin kenalan sama orang tuamu, Juleha”
“Hayu, atuh Kang. Saya Cuma punya Emak, Bapak teh sudah lama meninggal”
“Oh..begitu. Kira-kira ada yang marah nggak nanti?” pertanyaan basi, menggoda.
“Siapa yang akan marah?” Polos Juleha balik bertanya sambil mengernyitkan alis.
Sinar matahari makin menularkan cahaya emasnya pada gadis manis itu. Bulu-bulu tipis di atas bibirnya cukup menggemaskan Ikin. Makin kuat keinginannya untuk mempersunting Juleha.
“Kirain, Juleha sudah punya pacar?”
“Ah!! Akang…siapa yang mau sama saya Kang? Orang kampung….” Dikibas-kibaskannya tangannya, seolah meyakinkan Ikin bahwa ia memang belum punya pacar.
“Baiklah kalau begitu Juleha. Besok malam Minggu Akang main ya…?”
“Baik Akang. Tapi habis Isya ya? Saya ngaji dulu di musholla.” Jawab Juleha mengangguk malu dan girang.
Malam minggu masih 3 hari lagi. Juleha sudah sibuk memikirkan pakaian yang akan dikenakannya dan suguhan yang akan disiapkannya. Pasti ia akan meminta bantuan Mak Rosyidah membikinkan kue bugisnya yang terkenal enak di kampong itu.
Lima menit lagi azan Isya tiba, lalu Juleha akan segera sholat berjamaah dan pulang. Ah, tak sabar ia selalu melirik jam dinding di tembok atas depan mimbar. Yusuf sudah bersiap hendak mengumandangkan azan. Segera dipasangnya mukena, agar tak ketinggalan dan mesti menyusul seperti teman-temannya yang masih sibuk bercanda. Ia segera pulang begitu doa selesai dipanjatkan.

Setibanya di rumah, dilihatnya motor Sodikin sudah mematung di depan rumah Juleha. Ia masuk ke halaman dengan membawa hati yang berdegup kencang.

“Assalamu’alaikum. Kang Ikin? Sudah datang?” Disambutnya wajah yang dirindunya dengan senyum sumringah.
“Maaakk….! Kuenya mana? “ Setengah berteriak ia memanggil Emak sambil meletakkan mukena di kursi tengah ruang dalam. Emak keluar dari dapur.
“Ya, sabar! Emak lagi susun di piring.” Senyum ceria menghiasi wajah Emak dan Juleha.
“Cepat Mak. Minumnya mana?”
“Ini, sudah. Teh manis hangat, pake gula batu. Bawa sana!” seru Emak sambil menyodorkan baki. Juleha menyambut baki itu dan melangkah keluar dengan dada tegap. Ia berusaha mengatasi rasa gugupnya, merasa diapeli! Ini adalah saat pertama dalam hidupnya dikunjungi lelaki tampan pujaannya.
“Silakan Kang, diminum. Ini kue bugis khas buatan Emak. Sudah terkenal di kampong sini. Sering dipesan tetangga kalau ada kendurian!”
“Wah, terima kasih Juleha. Akang mereptkan saja.” Sodikin segera merapikan duduknya.
Malam merambat pelan diselingi percakapan ringan yang penuh kehati-hatian. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Mungkin 6 7 tahun. Sodikin cukup matang untuk menikah. Rasanya tak mungkin jika ia belum menikah.
“ Julrha, Akang pulang dulu ya..” Ikin memecah lamunan Juleha.
“Eh, akang kok buru-buru?”
“Iya, nggak enak sama Emakmu. Sudah malam.”
“Saya panggil Emak dulu ya?” Juleha segera beranjak memanggil Emak.
Emak keluar dengan wajah sumringah seakan menyambut calon menantunya.
“Mau pulang. Ikin? Ya sudah, lain kali datang lagi ya, jangan bosan..”
Ikin segera mengulurkan tangannya pada emak. Tangan Emak yang hobi memasak terasa dingin dan halus.
Tak disangkanya Mak Rosyidah  tampak lebih muda sebagai Ibu Juleha. Sodikin bingung mau memanggil Ibu, atau apa. Tapi karuan  saja ia memanggil Ibu pada Rosyidah. Sembari membungkukkan kepala, ia berpamitan.
Sejak saat itu, bermalam Minggu di rumah Juleha menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya. Julehapun terbuai dengan kehadiran Ikin mengisi hidupnya.
Sudah empat bulan mereka berpacaran. Begitu pandainya Juleha menjaga kehormatyannya meski beberapa kali kesempatan itu terbuka lebar. Kadang mereka berjalan-jalan ke kota, ke mal dan pulang selalu kemalaman, Rosyidah tak pernah marah. Ia percaya pada Sodikin yang pasti akan membawa anaknya pulang dengan selamat.
Ia menceritakan secara tentang status Juleha sebagai anak angkatnya. Kasih sayangnya kepada Juleha bagaikan anak kandungnya. Julehapun mengerti bahwa ia bukan anak kandung Rosyidah. Juleha adalah anak kandung saudara sepupu Rosyidah, perempuan,  yang mati dalam kecelakaan bis antar kota. Ayah kandungnya pergi ke Arab dan tak pernah kembali sejak istrinya meninggal lalu Juleha diangkat anak oleh Rosyidah dan Mastur, suaminya. Pasangan itu memang belum dikaruniai anak setelah 10 tahun menikah.  Itu terjadi ketika Juleha berumur 4 tahun. Mastur meninggal karena sakit paru-paru sejak Juleha menginjak kelas satu SMP.
                                                                        * * *
Ikin menarik nafas panjang sambil membelai rambut wanita itu. Ia mendengar dengan hati hati setiap cerita yang diungkapkan wanita cantik itu. Rambut yang hitam bak mayang terurai benar benar memabukkan hasrat Sodikin untuk terus bercumbu dengannya. Wanita itu jauh lebih matang dari Juleha. Sodikin tak kuasa menolak pesonanya. Apalagi wanita itu menyambutnya dengan penuh hasrat yang terpendam, seperti rumput kering yang menantikan hujan. Jika Sodikin membandingkan antara keduanya, jelas ia lebih memilih yang lebih matang dan dewasa. Juleha masih sangat polos dan kekanak-kanakan. Mungkin ia juga belum begitu berpengalaman dalam memperlakukan laki-laki. Setiap Malam minggu ia tetap menemui Juleha dengan setia. Sedangkan hari-hari biasa ia kerap menemui wanita itu di tempat yang sama, kontrakannya di kota.
“Sayang, kapan kamu akan berterus terang pada Juleha tentang kita?” Desak Sodikin.
“Entahlah. Apa aku tega untuk berterus terang padanya? Ia sangat mencintaimu”
“Tapi cepat atau lambat Juleha harus tahu, dan aku harus menjauhinya.”
Menjauhinya? Kamu pikir akan semudah itu bagi dia? Kamu tidak tahu bahwa ia sangat memujamu. Setiap hari yang dia ceritakan hanya Kang Ikin akan begini, Kang Ikin akan begitu, Kang Ikin….Kang Ikin…..begitu terus! Mana mungkin aku tega melukai hatinya?” Suara wanita itu berbisik agak keras.
“Tapi aku sudah tidak tahan ingin segera menikahimu. Aku tak nyaman dengan keadaan ini.”
“Sabarlah, nanti akan aku cari waktu yang tepat.”
Begitu terus yang diucapkan wanita matang itu. Sodikin hampir bosan mendengarnya. Ia sudah tak bisa lagi berpura-pura mencintai Juleha. Meski ia pernah mencium kening Juleha satu kali.
Mereka melanjutkan cumbu mereka hingga matahari menyambut sore. Sebuah pemandangan yang biasa jika Sodikin mengundang wanita itu datang ke kontrakannya di kota. Mereka sama-sama mabuk asmara.
                                                                            * * *
“Maaakk…….!!!! Apa yang Mak lakukan di sini?”
“Julehaaaa!!!!” Sodikin dan wanita kekasihnya segera melepaskan pelukannya dan berdiri sambil membenahi pakaian.
“Kang Ikiiiiiinn….??? Sudah sejak lama aku melihat Akang memperhatikan Emak lebih dari biasanya! Aku benci kalian. AKu benciiiii!!!!”
Juleha naik pitam, menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Ia lemparkan semua barang yang ada dan terjangkau tangannya. Buku-buku, botol parfum, minyak rambut, sisir dan sebagainya. Ia mengamuk.
“Julehaaa!!! Dengarkan dulu Juleha!!! Dengarkan!!! Akang mau menjelaskan sesuatu!!” Sodikin memegangi tangan Juleha. Rosyidah menangis tergugu dipojok ranjang. Ia tak sanggup berkata-kata.
“Apaaa…..??? Apa yang akan Akang jelaskan? Akang telah mempermainkan hati saya!!!!”  Juleha memukul-mukul tubuh atletis Sodikin.
“Aku jatuh cinta pada Mak angkatmu, Rosyidah. AKu mencintainya dan akan menikahinya Juleha!!” Sodikin memegang tangan Juleha. Ia bertelekan lutut pada lantai sambil menghiba. Wajahnya tampak memelas.

“Apaaaa….???? Apa Akang bilang??? “ Juleha berusaha sekuat tenaga melepas pegangan tangan Sodikin yang kuat. Ia berlari menuju dapur, mengambil sesuatu, lalu berlari kembali menuju kamar, sementara Sodikin yang hendak mengejar Juleha ke dapur berpapasan di depan pintu kamar. Sebilah pisau tajam ia tancapkan di dada Sodikin. Rosyidah menjerit-jerit melihat adegan itu. Sodikin ambruk bersimbah darah. Juleha mematung. Matanya nanar melihat Kang Ikinnya bersimbah darah dan sekarat. Lehernya begoyang goyang reflex menahan getar.

Sesaat kemudian polisi datang, gadis itu hanya menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol, meski matanya tak lepas menatap dingin pada  Sodikin yang pias.

Jati Asih,  Mei 2009